Kenapa harus jadi guru? (1)

Everyone who know me well, know my desire to be teacher.

Kayaknya mulut gue udah sampe berbusa dan mungkin mereka juga udah bosen kali ya kalau denger tentang gue yang pengen banget jadi guru.

Apalagi begitu akhirnya cita-cita gue kesampean.

Besar kemungkinan mereka makin bosen denger gue cerita dengan berapi-api tentang pengalaman gue jadi guru.

Keluarga gue, temen-temen gue, kebanyakan mempertanyakan kenapa gue bisa seneng banget jadi guru : Apa sih enaknya jadi guru?

Nyokap berpendapat kalau gue gak pantes jad guru dengan fisik yang “kurang berwibawa” plus sikap yang “sedikit” childish.

Komentar bokap: “Kenapa guru? Kenapa enggak dokter? Insinyur? Programmer?”

Well..

Gue rasa, semua pekerjaan itu ada enak dan enggak enaknya.

Kita harus menyamakan persepsi tentang itu dulu.

Kalau lu mau bilang ada pekerjaan yang 100% enak, coba lu sebut apa pekerjaan itu, gue akan sangat mempertimbangkan untuk mengubah profesi.

Nah, setelah kita sama-sama sadar dan paham tentang kenyataan bahwa enggak ada pekerjaan yang 100% enak, gue akan mengungkapkan ‘sisi kelam’ dari menjadi seorang guru.

Eh, kok sisi kelam?

Yah, supaya kalian enggak berpikir gue cuma mencari pembenaran atas pilihan hidup gue, gue mau meyakinkan kalau gue juga tau- ‘tak selamanya indah itu berarti tak bercacat’

  • gak aman kalau pake baju putih. kalau mau pake baju berwarna putih, harus punya motto hidup “Berani kotor itu BAIK!”.

Karena murid kita pasti akan menatap kita dengan tatapan innocent tapi entah kenapa seolah terdengar suara hati kecil mereka yang berkata “Ibu guru berani kotor? Baiklah!” Ini sih lebih ditujukan kepada guru TK walau guru SD kelas kecil mungkin bisa aja ngalamin hal yang sama. Kalau guru SMP atau SMA, kemungkinan ngalamin yang begini sih kecil kemungkinan yaa.

  • you might not only educate the children, but also their parents.

                   Nasibnya jadi guru ya, terutama (lagi-lagi) guru TK, kadang kita bukan hanya harus ngajarin murid tapi juga orangtuanya. Contohnya aja saat kita mengajarkan anak-anak berhitung. Tiap guru mungkin berbeda metode dalam mengajarkan anak berhitung. Nah, karena itulah, udah bukan pemandangan aneh kalau nanti orangtua nyamperin guru trus nanya gimana cara berhitung seperti yang sang guru ajarin. Dan, ya, percaya atau tidak, kadang mengajar orangtua lebih sulit daripada mengajar anak kecil. *senyum simpul

  • you, of course, have to deal with the parents

                   What the diff with point number 2? Well, it simply like this. What I mean with have to deal is you -almost always- have to make a deal with the parents. Contohnya begini,banyak orangtua murid yang merasa kalau dia lebih tau bagaimana cara menjadi guru yang baik daripada guru itu sendiri. Kebijaksanaan guru banyak yang diprotes karena kurang tepat, kurang mendidik, dsb. Nah, di saat seperti inilah seorang guru harus membuat ‘kesepakatan’ dengan para orangtua -yang pastinya enggak mungkin cuma satu  orang yang protes, sangat jarang terjadi- supaya semua pihak merasa senang. Gampang? Tunggu aja sampe lu ketemu sama orangtua murid yang bertitel lebih banyak dari lu, punya anak lebih banyak dari lu, ngurus anak dari lu masih maen petak umpet sama temen-temen laen. Setiap ibu selalu merasa dia lebih tau apa yang terbaik buat anaknya. Gue gak bilang itu salah, walau gue gak sepenuhnya setuju. *gak mau bahas lebih lanjut, nanti jadinya panjang

  • They call it, “Professional”

                   Masih berhubungan dengan yang kedua sama ketiga, guru juga dituntut untuk selalu ceria di depan publik. Enggak kenal deh tuh yang namanya PMS, patah hati, bokek, masalah keluarga, banyak urusan, apapun. Udah mirip sama bintang sinetron deh. Kalau kita enggak sempet ngobrol sama orangtua murid sebentar aja, langsung deh jadi buah bibir. “Duh, guru yang itu mah kalau diajak ngobrol susah,saya enggak mau deh anak saya diajar sama dia.Enggak kepantau nanti perkembangan anak saya” Padahal,kalau kita ngeladenin dia ngobrol,bisa keteteran kerjaan kita atau malah murid kita yang jadi enggak kepantau. Yah, realita. 

  • WTF! They all in there.

                    Kalau yang ini sih, lebih berlaku untuk guru-guru yang masih muda atau berjiwa muda yang eksis di Facebook. Yes, WTF : Welcome to Facebook. Begitu satu murid atau orangtua murid jadi temen di FB, pada umumnya menurun pula aktivitas si guru di Facebook. Takut salah ngomong, nanti kalau update status patah hati, dibilang guru galau. Kalau tulis tentang cinta, dibilang kayak bocah ingusan baru kenal cinta. Mau ngomel tentang kerjaan, nanti jadi bahan omongan. Di-tag foto sedang menggila bersama teman, tergoda untuk jadiin profile picture, eh kalau diliat sama murid atau orangtuanya kan gak lucu. Terpaksa batal. Serasa masa muda dirampas secara paksa. *agak lebay ya, tapi ini sih yang gue rasain. tau deh kalau orang lain.

  •  harus bersahabat dengan cacing gelagapan

                  Maksudnya? Ngg, ini sih sebenernya karna gue bingung aja musti nyebut ini apa. Tapi, maksud gue gini. Tau dong gimana ‘ajaib’-nya tulisan anak-anak? Enggak usah anak TK deh, anak SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa aja masih banyak yang tulisannya kayak cacing gelagapan. Iya, gak jelas, kesana kemari semau dia. Sukur-sukur kalau masih gede-gede, kadang udah tulisan jelek, kecil-kecil pula sampe kita harus pake kaca pembesar dan mata batin untuk membaca. Kadang juga mereka salah eja dan salah eja-nya tuh ngawur banget sampe kita gak ngerti yang dia omongin apa, musti pake mata hati untuk bisa ngerti. Kalau sadis, tinggal coret aja. Kalau manis, tulis aja di samping tulisan ‘itu’ –> “Nice try. Better luck next time,dear 🙂 “

  • salah orangtua / salah guru?

                   Ini nih yang paling rancu. Paling membingungkan dan menyesatkan. Jadi misalnya gini, si anak enggak ada progress sama sekali di sekolah. Kita tau dia sebenernya bisa tapi entah kenapa dia males. Dan setelah diselidiki, dia terbiasa kalau di rumah, kalau enggak mau ya udah gak bakal dipaksa sama orangtuanya. Jeleknya, kebanyakan orangtua yang akhirnya nyerah ngadepin anaknya yang udah kepalang basah salah didik, nyerahin pemecahan masalah ke guru tapi enggak melakukan perubahan apa-apa. Orangtua sering beranggapan kalau dia sudah menaruh anaknya di sekolah, maka adalah tanggung jawab sang guru sepenuhnya dalam mendidik anak. Padahal, guru juga butuh support dari orangtua dalam mendidik anak. Ralat deh, guru hanya membantu orangtua mendidik anak. Sehebat apapun sang guru tapi orangtua tidak mendukung perkembangan anaknya sendiri, tetep aja susah buat anak itu berkembang. Percaya deh..

Dan, wow. gue sendiri jujur enggak nyangka gue bisa nemuin lebih dari dua ‘sisi kelam’ menjadi seorang guru. Iya, gue juga sadar kalau cara penulisan gue agak gak ‘guru banget’. Yahh..guru juga manusia kan? Punya sisi lain dalam hidup. Dan setiap guru -manusia- adalah unik. Wajar dong kalau gue agak ‘gak guru banget’ ?

Karena yang paling penting itu bukan gaya mengajar, gaya berbicara, gaya berbahasa. Tapi keinginan untuk mendidik anak secara akademis, kepribadian dan tata krama.

Cheers!

😀

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s