Bongkar

Hari ini mendadak pengen baca beberapa buku yang udah cukup lama gue beli tapi belum tersentuh. Walau suka banget baca, tetep aja enggak semua buku yang gue beli udah gue baca sampai tuntas. Kalau buku itu gue beli secara ‘borongan’ alias sekali beli, banyak buku, buku-buku itu harus bersabar menunggu giliran.
Nah,karena banyaknya buku yang menunggu giliran,mereka pun disimpan dengan rapi oleh nyokap demi menghemat space di rumah. Gue pun harus berjuang menemukan buku yang gue mau baca di antara tumpukan barang. Nyokap pun ngoceh karena gue jadi ngeberantak. Setengah hati, gue mengakui kalau emang jadi berantakan dan ribet juga mau dirapiin lagi.
Sambil ngeberesin, gue keinget kalau gue itu orangnya enggak gitu suka beberes, tapi kalau udah beberes, satu lemari gue keluarin dulu semua isinya, baru dirapiin terus masukin. Makanya gue males beberes. Makan waktu lama. Tapi kalau berantakan, senewen juga.
Anehnya, jadi kadang karena mau praktis, gue tinggal aja, gue cuekin aja walau berantakan. Walau gue sendiri juga senewen. Atas nama gak ada waktu, gue pun membiarkannya.
Rapi tapi males. Teratur tapi cuek. Aneh ya?
Back to clean-up thing, buat gue, ngeluarin semua isi lemari itu bertujuan supaya gue tau persis apa yang ada di lemari itu. Biar gue juga bisa liat apa yang perlu dibuang, apa yang harus disimpen. Apa yang ternyata enggak pada tempatnya, apa yang harus diperbaiki.
Somehow, gue berasa hati kita tuh kurang lebih seperti lemari atau kotak penyimpanan yang sebaiknya secara berkala perlu kita ‘bongkar’ untuk tujuan yang baik.
Dalam kasus gue, bongkar isi lemari bertujuan untuk menata kembali lemari agar terlihat ‘nyaman’. Ada yang perlu membongkar lemari agar lemari tidak penuh karena beberapa barang perlu dipindahkan ke tempat lain. Ada yang perlu membongkar lemari karena ingin berbagi pakaian lama kepada orang lain.
Membongkar lemari karena ingin berbagi ‘yang tidak terpakai’ kepada orang lain, menurut saya prinsipnya sama seperti kalau kita berbagi pengalaman kita kepada orang lain. Kita belajar banyak dari pengalaman itu dan kita berbagi dengan orang lain karena kita tau mereka membutuhkan pembagian pengalaman itu. Ada orang yang merasa tidak perlu atau malu berbagi pengalaman kepada orang yang bernasib mirip dengannya atau mengalami situasi yang pernah dia alami sebelumnya. Jangan takut menginspirasi atau bahkan, terinspirasi.
Membongkar lemari karena sudah penuh, buat saya, sama prinsipnya dengan kita berbagi suka dan duka kita kepada teman atau sanak saudara karena baik suka maupun duka tentu tidaklah enak kalau disimpan sendiri.
Membongkar lemari karena sudah terlalu ‘berantakan’ seperti yang sering saya lakukan, berarti mengeluarkan segala hal yang menumpuk dalam hati saya, menemukan kepahitan dan kekecewaan yang ‘terselip’ di tengah ‘kekacuan’. Saatnya membuang itu semua, menata ulang hati agar ‘rapi’ dan ‘nyaman’.
Jadi, jangan lupa secara berkala untuk membongkar hati.
Berbagi pengalaman kepada yang membutuhkan, berbagi kisah dengan yang terkasih dan membuang segala hal yang tak enak, yang mengganjal di hati.
Selamat berbenah!
Cheers!
😀

Advertisements

4 thoughts on “Bongkar

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s