Pencitraan

Gue bukan ahli bahasa walau gue suka mengkritik orang yang menggunakan bahasa yang ambigu, susah dimengerti atau sebagainya. Dalam bahasa gampangnya, gue seneng banget nge-judge orang berdasarkan cara dia berbicara, berkomentar atau menulis sesuatu. Padahal, sama seperti kebanyakan orang lainnya, “aku pun ingin diterima sebagaimana adanya diriku ini..” (bayangkan gue menyanyikan kalimat tersebut dengan irama melayu dan suara mendayu-dayu tapi jangan cari lagunya karena sampai saat ini belum ada, kalaupun nanti ada, kasih tau gue aja, mungkin gue bisa tuntut hak ciptanya. OK, terlalu out of topic)

Dan, kenyataan ini selanjutnya membawa gue ke dalam pemikiran bahwa sesungguhnya seperti halnya kebanyakan orang lainnya, gue sedang melakukan sebuah pencitraan. Ijinkan gue untuk menjelaskan apa yang GUE maksud sebagai pencitraan.

(Gue harap kalian mengerti kenapa gue menggunakan huruf tebal, cetak miring, huruf kapital dalam penggunaan kata ‘gue’ di kalimat barusan)

Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Umumnya, yang melakukan pencitraan ini adalah orang yang bersangkutan. Tetapi, bisa juga dilakukan dengan bantuan tim sukses atau orang terdekat. Bisa secara ekplisit atau implisit. Bisa tertulis ataupun lisan.

Contohnya bisa kita lihat di dalam film The Iron Lady, yang mengkisahkan tentang Margaret Thatcher, mantan PM Inggris. Dalam film tersebut, ada adegan yang menunjukkan bagaimana Margaret belajar dengan seorang guru vokal untuk merubah gaya bicara Margaret agar tidak melengking lagi. Agar terdengar lebih lugas dan tegas.

Nah, pencitraan tidak hanya dibuat dengan cara merubah penampilan. Tapi, ada juga yang melakukan pencitraan dengan tulisan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petinggi organisasi atau bahkan negara. Kebanyakan mempunyai tim penulis pidato khusus yang berkewajiban untuk membuat suatu pidato yang akan meningkatkan citra baik tapi tetap sesuai dengan karakter orang yang akan membacakannya.

Paling mudah, di jejaring sosial bisa kita temukan beberapa akun milik selebriti atau orang terkenal lainnya yang dikelola oleh tim managemen atau tim sukses orang yang bersangkutan. Mereka bertugas memastikan bahwa berita yang tersampaikan terdengar/terlihat personal tapi tetap tidak membawa dampak buruk atau minimal, tidak membawa dampak yang tidak diharapkan. Bukan tidak mungkin pula, mereka yang mengelola jejaring sosialnya sendiri sebenarnya tetap diarahkan oleh tim atau mungkin orang tertentu.

Lalu, pertanyaan yang mungkin akan muncul selanjutnya, apakah ini adalah suatu hal yang baik? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak.

Ya, karena kebanyakan orang tidak bisa menerima ketidaksempurnaan. Seperti yang saya sebut di awal, kebanyakan orang menuntut untuk diterima apa adanya tapi tidak bisa menerima orang lain apa adanya. Seseorang bisa diserang dengan begitu kejam karena kesalahan memilih kata padahal dia sudah mengucapkan jutaan kata baik.

Tidak, karena terkadang pencitraan akhirnya membentuk opini publik terhadap sosok ‘lain’ dari orang tersebut yang sebenarnya bahkan tidak dia miliki. Anggap saja, demi pencitraan, dia harus berbohong, mengatakan dia melakukan suatu hal yang tidak pernah dia lakukan. Pencitraan tersebut akan membuatnya tersiksa dan paling penting, membuatnya tidak menjadi diri sendiri. Apalagi, saat kebohongannya terbongkar, bukankah itu hanya akan menambah masalah?

Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, kita pernah dan terkadang perlu melakukan pencitraan. Contoh paling simple, ada beberapa dari kita yang enggak mau mengumbar kegalauan kita ke publik. Padahal, kita sering banget terjebak dalam kegalauan. Atau, sebenernya jago banget nulis puisi dan saat ada yang komentar, malah bilang itu cuma nyontek dari buku yang entah terbitnya dimana. Atau bisa juga enggak mau upload foto narsis kita karena takut dibilang alay.

Yang ingin gue sampaikan disini adalah, pencitraan itu bisa berdampak baik kalau kita tau batasnya. Pencitraan bisa menolong kita dianggap sebagai seseorang yang kita harapkan. Tapi, menurut gue, bukankah lebih asyik dan lebih menyenangkan kalau orang mengenal kita sebagai diri kita sendiri?

Kita tidak akan pernah jadi sempurna. Masyarakat memang selalu sulit menerima ketidaksempurnaan seseorang. Siapa yang bisa menganggap seseorang sempurna selain dirinya sendiri?

Jaga sikap, itu harus. Jaga omongan, itu penting. Tapi, lakukan karena memang kamu adalah orang yang menghargai orang lain dan paling penting, menghargai dirimu sendiri. Bukan karena kamu butuh ‘pengakuan’ dan ‘penerimaan’ dari orang lain.

Be your self and proud.

Cheers!

😀

Advertisements

One thought on “Pencitraan

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s