Book Review – Pintu Harmonika

courtesy: Goodreads

Judul : Pintu Harmonika

Penulis : Clara Ng & Icha Rahmanti

Penerbit : Plotpoint Publishing (PT. Bentang Pustaka)

Tebal: 285 + x hal.

Cetakan pertama, Januari 2013

Masih ingatkah dengan buku yang pernah masuk dalam wishlist saya? Silahkan cek: Wishful Wednesday [1]

Nah, saya akhirnya melakukan PO untuk buku tersebut, karena tergiur dengan tanda-tangan dari Clara Ng. Yak, saya memang penggemar tulisan-tulisan beliau. Saya pun berharap bahwa saya akan mendapatkan buku baru yang layak dikoleksi lainnya, seperti buku-buku dia sebelumnya yang berhasil mencuri hati saya.

Seingat saya, harusnya saya menerima sekitar enam tanda tangan, tapi ternyata hanya ada empat. Tidak terlalu masalah karena saya paling menanti tanda tangan Clara Ng. Eh, bukan berarti tanda tangan yang lain tidak terlalu berarti, I still appreciate it. Pasti pegal kan, tanda tangan sekian ribu buku πŸ˜€

Nah, selanjutnya saya akan memberikan penilaian saya tentang buku ini. Buku yang ringan, baik dari segi fisik maupun isinya. Hanya membutuhkan sekitar dua jam untuk menuntaskannya.

Warna-warna pastel pada cover membuat saya merasa bahwa buku ini pastilah buku yang ‘manis’ dan ternyata, perkiraan saya benar.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian, masing-masing merupakan jurnal alias cerita yang dijelaskan dari sudut pandang dari para tokoh utama, yaitu Rizal, June dan David.

Awalnya saya mengira bahwa saya akan membaca cerita secara bersambung dengan pergantian sudut pandang di tiap bab, ternyata tidak. Cerita terus bergulir, dan seolah terulang kembali begitu diceritakan dari sudut pandang tokoh yang berikutnya alias berganti jurnal.

Ceritanya sendiri tentang kecintaan Rizal, June dan David kepada suatu tempat yang mereka sebut sebagai ‘Surga’. Tempat yang menjadi semacam sanctuary untuk mereka, tempat mereka bertemu dan berbagi berbagai pengalaman dalam hidup. Suatu hari, mereka mendapat kabar bahwa ‘Surga’ akan dijual. Itu artinya mereka tidak bisa lagi dengan leluasa menggunakan tempat tersebut. Rizal yang merasa paling bertanggungjawab terhadap ‘Surga’, mulai merencanakan suatu operasi penyelamatan untuk ‘Surga’. Apakah semua berjalan sesuai dengan rencana? Atau, seharusnya mereka merelakan surga, seperti apa yang disarankan oleh Pak Firdaus, ayah dari Rizal?

Pendapat pribadi saya? Saya terhibur tapi merasa ‘tanggung’. Mungkin karena saya terlalu terpengaruh dengan promosi buku yang menekankan tentang kecintaan ketiga tokoh utama terhadap ‘Surga’. Menurut saya, kecintaan ketiga tokoh utama terhadap ‘Surga’ malah kurang tergali, padahal tampaknya itu adalah inti cerita dari novel ini.

Keakraban di antara mereka pun kurang tereksplor. Fokus cerita malah ke kehidupan pribadi mereka masing-masing, sehingga terkesan mereka hanyalah orang-orang yang dipertemukan oleh nasib dan punya ‘ide gila’ untuk dilakukan ‘bersama’.

Alur cerita yang terlalu sering berpindah pun sedikit membingungkan untuk saya. Nanti mereka berada di masa kini, tahu-tahu kembali ke beberapa bulan yang lalu, mendadak sedikit maju ke beberapa hari lalu dan akhirnya sudah beberapa hari kemudian.

Saya menduga (para) penulis hendak mencitrakan jurnal yang memang ditulis oleh remaja (dengan segala kelabilannya) dan juga anak-anak (dengan segala kepolosannya). Tidak sepenuhnya gagal walau tidak bisa disebut berhasil karena tidak membuat pembaca (setidaknya saya) nyaman dalam membacanya.

Unsur kejutan yang minim meyakinkan saya untuk batal menjadikan buku ini sebagai salah satu buku favorit saya.

Tokoh favorit saya adalah Pak Firdaus, ayah dari Rizal. Saya senang bagaimana dia dengan caranya sendiri menunjukkan kasih sayangnya kepada anak semata wayangnya.

Dan kalimat favorit saya adalah:

Hidup itu seperti roda.

…kadang ada di atas dan di bawah.

…kadang harus ditambal.

…kadang peleknya kena colong.

Oh ya, disebut buku ini cocok untuk semua umur, tapi saya tidak setuju karena ada beberapa istilah yang digunakan dalam “Jurnal Rizal” yang menurut saya masih tidak cocok untuk pembaca anak-anak. Mungkin untuk yang sudah duduk di bangku SMP, bolehlah..

Overall, buku ini cocok sekali untuk dibaca di waktu luang. Sambil bersantai untuk mengisi hari libur atau mungkin menunggu jemputan.
Mungkin Anda bertanya, apakah saya akan berubah pikiran tentang menjadikan Clara Ng sebagai penulis favorit saya? Nope. Meski saya bukan penggemar dia dari jaman baheula, bahkan saya bisa dibilang penggemar ‘kemaren sore’, saya tetap jatuh cinta dengan pemikiran dan caranya bercerita. Saya masih menunggu karya-nya yang berikut πŸ™‚

Cheers!

πŸ˜€

Rate : Β β™₯Β β™₯Β β™₯

Advertisements

3 thoughts on “Book Review – Pintu Harmonika

  1. Beli ini gara-gara Clara Ng, entah mood lagi ga pas atau sudah ‘tua’, aku ga klik sama buku ini Zel, padahal Sulis bilang bagus bener, yah emang selera beda-beda ya πŸ˜€

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s