To Be The Happy Me: It’s All Coming Back to Me

No, it’s not one of Celine Dion’s song, even I love it so much. So, what is this about?

Hmm.. Allow me to share my daily experience with you.

Warga Jakarta pasti paham betul dengan yang namanya ‘macet’. Momok yang dialami nyaris setiap hari, pagi-malam. Bikin kesel, capek, pusing, bosen, dan sebagainya. Dan, kepadatan di jalan raya seringkali dibuat tambah parah oleh perilaku pengendara lain yang SUPER MENJENGKELKAN. Terutama, -so sorry to say- pengendara motor.

Rasanya tuh udah pengen banget teriak, ngamuk, banting mobil (which is gak mungkin) karena jengkel dengan kelakuan mereka yang seenaknya.

Saya sering banget membatin kalau kebanyakan pengendara motor ini mungkin udah bosen hidup. Bayangkan, saat saya sedang berkendara di jalur dua arah, ada beberapa motor yang melawan arah. Mereka tidak menepi sedikit pun walau melihat mobil melaju ke arah mereka. Terpaksa saya harus menepi berkali-kali, padahal di samping kiri juga ada pedagang kaki lima berjejer.

Nah, itu juga. Pedagang kaki lima. Saat saya masih di sekolah, saya sangat akrab dengan pedagang kaki lima (baca: hobi jajan). Tapi beranjak dewasa, saya semakin mengerti bahwa mereka cukup merepotkan pengguna jalan yang lain.

Mangkal seenaknya, terkadang melintang tidak keruan. Kalau seandainya menyenggol dia, pasti kita yang akan dimarahin, kan?

I really hate this. Pengendara mobil selalu dianggap sebagai orang kaya nan arogan yang hanya bisa memamerkan kekayaan dan semena-mena terhadap pengguna jalan lain. Padahal, banyak juga pengendara mobil yang sudah berhati-hati tapi harus makan hati karena tingkah laku seenaknya dari..pengguna jalan yang lain.

It’s complicated, huh?

Nah, setelah uraian panjang lebar tersebut, saya akan mulai masuk ke apa yang sesungguhnya ingin saya bahas di sini.

Saat jengkel dengan pengguna jalan lain, saya rasanya ingin sekali bertindak seenaknya juga dalam berlalulintas.

Saya ingin melanggar lampu merah. Saya ingin tak perlu repot melambatkan kendaraan agar motor tidak tersenggol, toh mereka juga tidak takut disenggol sama saya. Saya ingin ikutan membunyikan klakson walau tau itu tak mempercepat laju kendaraan.

Tapi, akhirnya saya berpikir kembali, apa gunanya?

Itu sama sekali bukan saya. Not who I really am.

The point is, it’s all coming back to me. Pengendara lain bisa bertingkah menjengkelkan. Jalanan di Jakarta mungkin memang akan terus macet. Pengendara motor mungkin malah terus bertambah tiap bulannya.

But, if I choose to be happy, keep smiling, keep singing while driving.. I will be fine.

Kalau hidup memberikanmu lemon, minta air putih aja. Biar lebih sehat #abaikan

At last, saya ingatkan sekali lagi.

Life is all about choices. ALWAYS choose to be happy.

Cheers!

😀

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s