Another Side of ME – Writing Challenge Day 1

*ngintip*

Well..post pertama saya sedikit terlambat, nih. Mohon dimaafkan yaa *blushing*

Saya merasa geli sendiri saat tersadar kalau tantangan pertama dari writing challenge yang saya ikuti adalah menulis autobiography.

Setiap kali disuruh menceritakan tentang diri sendiri, saya pasti kebingungan. Bingung harus mulai darimana karena rasanya sangat banyak yang ingin saya bagikan. #abaikan

Mari dimulai dari masa kecil saya.

Orangtua saya selalu meledek saya karena kejutekan saya semasa kecil. Saya selalu sinis kalau ada yang menyapa saya dan jadinya suka misuh-misuh sendiri, “Siapa sih, sok akrab banget?”

Masih terbawa sampai sekarang walau kadarnya sudah berkurang.. sedikit :p

Sikap saya yang jutek diperparah dengan ingatan saya yang cenderung lemah untuk nama dan wajah orang lain. Beberapa kali saya akhirnya dibilang sombong karena cuek aja pas ketemu sama temen lama. Yah, saya aja enggak inget sama muka mereka. Ralat, kadang nama mereka aja saya lupa.

Jadi, kalau ada yang merasa saya acuhkan saat berpapasan, please, please, please..jangan ragu untuk menyapa saya dan mengingatkan saya bahwa kita saling mengenal.

Bicara soal pertemanan, saya teringat bahwa saya pernah ditegur sewaktu TK oleh guru saya, sampai orangtua saya dipanggil ke sekolah! Gara-gara, saya tidak pernah mau bermain bersama anak perempuan. Alasannya? “Habisnya anak perempuan itu cerewet, Bu!”

DOENK! Padahal sendirinya cewek. Padahal sendirinya bawel. Padahal, padahal, padahal..

Awalnya saya mendefinisikan diri saya sebagai tomboy, tapi semakin hari saya semakin tersadar kalau saya bukan tomboy, tepatnya sih cuek.

Kesenangan saya sewaktu kecil adalah memanjat genteng di rumah, loncat dari satu atap rumah ke atap rumah yang lainnya. Kemudian saat saya bisa bermain sepeda, saya pernah mengayuh sepeda saya sampai sekitar 5km dari rumah, dengan umur masih di bawah sepuluh tahun.

Saya penakut, cepat menyerah tapi senang menghadapi tantangan. Prinsip saya, lebih baik mencoba dan gagal daripada menyesal karena tidak mencoba.

Pernah suatu kali saya sedang mengantri untuk naik Niagara-gara di Dufan bersama teman SMA. Saat mengantri dan akhirnya saya mengungkapkan kecemasan saya, ada ibu yang menyeletuk, “Hah? Kamu takut? Padahal daritadi keliatannya kamu yang paling berani.”

HA! Anda sudah tertipu, sayang sekali! #abaikan

Karena sikap saya yang cuek dan cenderung seenaknya, saya dijuluki sebagai ‘ketua geng’ oleh teman-teman saya sewaktu SMA. No, not literally. Lebih semacam sindiran karena saya lebih senang melakukan segala sesuatu sendiri dan dengan cara saya. Dominan? Hm, not really. Independent? Maybe.

Sewaktu SMP, kebanyakan teman saya adalah cowok. Mereka sampai tidak menganggap saya wanita karena kecuekan saya. Saya selalu diperlakukan berbeda dengan cewek laen. Unfair! *mewek*

Dan ternyata, belum lama ini saya bertemu dengan teman baik saya sewaktu SD, dia mengungkapkan kalau sebenarnya dia merasa bahwa saya itu autis, dalam artian punya dunia sendiri yang tidak bisa diganggugugat.

Percayakah Anda, bahwa saat saya meminta konfirmasi dari teman-teman saya yang lainnya, mereka kebanyakan setuju dengan pendapat tersebut?

Saya terkejut. Dan akhirnya tersadar, kalau.. ternyata mereka benar. Saya memang cenderung sibuk dengan dunia saya sendiri. Saya memang berusaha berkawan baik dengan semua orang. Tapi, pada akhirnya, saya memilih asyik dengan kesendirian saya.

Mungkin ini ada hubungannya dengan kesukaan saya membaca buku. Dari kecil, saya terbiasa untuk menghabiskan waktu saya di rumah, sambil membaca apa saja yang bisa saya baca. Bahkan kadang saya asyik membaca katalog dari supermarket untuk menghabiskan waktu.

Buku favorit sewaktu kecil? Tentu saja Enid Blyton! Dan..Mira W! πŸ˜„

Saya juga penggemar komik. Tapi, sayang sekali, meski saya senang membaca, saya dulunya bukan tipe pemilik buku yang baik. Kebanyakan buku saya akhirnya rusak atau hilang begitu saja. Seiring berjalannya waktu, saya mulai memutuskan untuk lebih mencintai buku lagi dengan merawatnya.

Baru berasa setelah ada beberapa buku yang saya suka, mulai sulit dicari di pasaran. Sometimes, money can’t help to bring back memories, huh? Hiks..

Cita-cita saya terus berubah sewaktu kecil. Tapi sejak saya kelas 5 SD, saya memantapkan hati bahwa saya ingin menjadi seorang guru yang memiliki profesi sampingan sebagai penulis.

Why?

Karena saya merasa apabila saya menjadi guru, saya akan punya waktu yang cukup untuk keluarga, terutama anak saya. Dan penulis? Menulis adalah hal yang saya suka karena lewat tulisan, saya bisa menjadi apa saja yang saya mau. Dan, menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan dengan lebih tertata.

Sedihnya, kebanyakan orang terdekat saya tidak mendukung keinginan saya ini karena kedua profesi yang saya inginkan adalah profesi yang cenderung ‘miskin’ dalam arti gajinya tak menentu, kurang dihargai, dan sebagainya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, saya merasakan bahwa hidup bukanlah hanya perkara untung-rugi, kaya-miskin, makmur-melarat. Ini adalah masalah panggilan jiwa. Apa yang kamu ingin lakukan untuk membuat hidupmu lengkap?

So, yes, I still wanna be teacher and author. Saya memiliki impian untuk memiliki sekolah dan toko buku sendiri. Dimana saya bisa meluapkan segala impian saya dan harapan saya yang sudah terpendam selama sekian lama *lebay tapi bener*

Selain ‘berpetualang’ dan membaca, saya juga senang menonton televisi. Saya hafal sebagian besar sinetron, termasuk OST-nya, pemain filmnya, bahkan kalimat yang juga sedang kembali ngehits -> “Tampar aku mas, tampar!”

Suka nonton kartun, film silat, dorama, apapun deh yang sedang hits dan menarik perhatian saya. Lagu fav sampai sekarang: “Kata-kata yang indah.. Tidaklah perlu.. Sungguh menyenangkan hati.. Hingga waktu pun terlupakan..” Ada yang inget? πŸ˜‰

Terobsesi berat mengirim surat kepada Nicky Westlife karena melihat alamat surat-menyurat dia ada di tabloid Fantasi. Sayang, enggak pernah berhasil ngumpulin uang karena uangnya selalu habis lagi buat beli majalah atau tabloid yang memuat berita Westlife. BIARPUN CUMA SECUIL! #sikap #abaikan

Lalu, apa lagi, ya?

Oh ya, saya sering menirukan kembali video klip yang saya suka. Contoh: As Long As You Love Me. Saya akan memainkan bangku sedemikian rupa ala personel BSB dan bermain dengan kursi kerja Papi saya, layaknya Brian di video klip tersebut.

Dan, ini rahasia, yaa.. Saya suka membayangkan diri saya sebagai pasangan dari idola saya. Contohnya, saat ini saya lagi tergila-gila dengan Ted Fu, maka saya tak jarang membayangkan diri saya sedang menata kehidupan bersama dia. Seperti apa? Enggak mau kasih tau! :p

Moment yang gak akan pernah saya lupakan seumur hidup adalah saat saya divonis oleh dokter tidak bisa hidup dengan normal alias akan terus-menerus sakit. Itu adalah titik terendah dalam hidup saya yang membuat saya pernah bertanya, “Kenapa hidup saya tidak diakhiri?”

Pada akhirnya, saya mengerti bahwa tugas saya belum selesai. Saya tidak bisa berhenti merasa kagum dengan keajaiban yang dilakukan oleh Tuhan dalam hidup saya. Termasuk, bagaimana besarnya cinta dan dukungan dari orangtua, keluarga dan teman terdekat saya.

Dulunya, saya adalah orang yang meskipun sibuk dengan dunia sendiri, berusaha untuk mejadi teman yang baik. Saat saya sakit, saya tersadar bahwa saya tidak cukup baik untuk teman saya. Dan sebaliknya, mereka pun tidak cukup baik sebagai teman saya.

Saya pernah mengeluh, “Kenapa saya harus mengalami terlalu banyak di usia yang masih muda?”

Nyatanya, semua yang saya alami membuat saya belajar bahwa hidup tidak akan pernah menjadi mudah. Kita yang akan menjadi semakin kuat.

Hmmm..sepertinya saya tidak cukup berbakat dalam menulis biografi, ya? :p

Hope you get something from my story. Kalau penasaran pengen tau lebih banyak tentang aku, feel free to ask, lho!

Cheers!

πŸ˜€

Advertisements

2 thoughts on “Another Side of ME – Writing Challenge Day 1

  1. Chei sepertinya kita banyak kemiripan yah? Aku juga tipikal yg lebih prefer kerja karena job satisfaction drpd monetary gain. Makanya aku tuh banyak pindah2 kerja. Tapi yg utama (pengen merasakan mengajar) justru belum kesampaian

    • iyaa kak, kita banyak miripnya. bahkan di blog kita, sama2 bahas lirik lagu, muahaha..
      tapi kakak lebih detail sih :p
      yap, duit itu gak akan pernah cukup, tapi kepuasan batin yang perlu dicari πŸ˜€

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s