Surat untuk Saya di Masa Depan – Writing Challenge Day 10

Tema untuk hari kesepuluh cukup menarik. Entah terjemahannya benar atau tidak, tapi kali ini saya akan menulis ‘surat untuk saya di masa depan’.

Rasanya menarik untuk membayangkan, apa yang ingin saya sampaikan pada diri saya di masa depan. Apalagi mengingat kalau saya seringnya merasa malu saat membaca tulisan saya di masa lampau. Sering juga sih melihat tulisan saya yang lama dan berasa,’Aih, ternyata saya romantis,ya!’ #jangandijitak

Surat ini saya buat untuk diri saya di lima tahun mendatang. Sampai saat ini, saya masih bingung mau bilang apa ke diri saya di lima tahun mendatang. Jadi, dibiarkan mengalir apa adanya aja dan semoga saja saya tidak menyesal membacanya lima tahun setelah ini.

(*)

Dear Mrs. Zelie,

Iya, penting banget pake Mrs. Zelie karena harapan saya adalah lima tahun mendatang, you already married. Bahkan, kalau perlu udah punya anak. Setidaknya, sedang hamil. Agak obsesif, ya? Biarin sih, namanya juga harapan.

Kalau begitu, gimana kalau sekarang saya tulls aja, apa yang saya harapkan untuk dapat dicapai dalam waktu lima tahun? Meniru Bapak Pembangunan, saya akan membuat REALITA alias Rencana Aksi Lima Tahun alias rencana apa yang akan saya capai dalam waktu lima tahun. Singkatannya maksa? Biarin.

Salah satu pencapaian yang saya harapkan sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu menikah. Maaf, bukannya saya segitu pengennya menikah. Saya yang sekarang justru sedang meragukan yang namanya pernikahan. Saya merasa bahwa tidak ada hal yang bisa prediksi. People changes, feeling changes. Bagaimana kita bisa tahu siapa yang akan bertahan bersama dengan kita ‘sampai maut memisahkan’?

That is why, saya berharap bahwa saya di lima tahun yang akan datang sudah bisa menemukan orang yang bisa membuat saya percaya dengan kekuatan cinta. Semoga, Mrs. Zelie (mulai dari sini saya akan menyebutmu demikian, wahai diri saya di masa depan) sudah bertemu dengan pasangan yang tepat tersebut.

Dan, meski pun ternyata kamu masih belum bisa menemukannya, no worries. At least, tetaplah percaya bahwa tidak akan ada orang yang sempurna untuk menjadi pasanganmu. Tapi, bukan berarti bahwa kamu harus merendahkan diri dan menerima ‘siapa saja’ untuk menjadi pasangan. Cinta bisa menunggu, kesalahan tidak. You know what I mean, right? 😉

Selanjutnya, saya harap akhirnya buku keduamu sudah terbit. Ayolah, kan sudah tahun kelima dari kamu berusaha memperbarui niatmu dari tahun-tahun sebelumnya! Menulis dan menerbitkan buku memang hal yang berbeda, tapi bagaimana bisa menerbitkan buku kalau tidak menulis? Okay, itu semacam peringatan untuk diri saya yang sekarang. Nah, semoga saja di lima tahun yang mendatang, bukumu sudah terbit, yang kedua, ya! :p

Saya juga mau mengingatkan ke kamu kalau kamu tidak pernah sendirian. Selalu ingat bahwa kamu masih berada di dunia, setidaknya pada hari aku menulis surat ini, 10 Agustus 2013, karena kamu sangat dikasihi. Oleh Tuhan, oleh keluargamu dan oleh teman-temanmu.

Lima tahun dari sekarang, kalau kamu masih berkesempatan membaca surat ini (hey, kita kan enggak pernah tahu umur manusia!) jangan pernah bosan untuk bersyukur atas waktu yang kamu punya.

Selalu ingat bahwa tanpa pertolongan Tuhan, kamu mungkin tidak bisa membaca surat ini. Bahkan, saya mungkin tidak bisa menuliskan surat ini untukmu, Mrs. Zelie.

Setiap kamu merasa sendiri, ingatlah bahwa hidupmu adalah bukti nyata, kamu tidak pernah sendirian dan betapa besar Tuhan mengasihi kamu.

Ingat bagaimana kamu pernah meminta agar Tuhan menghentikan perjuanganmu. Ingat bagaimana kau tersadar bahwa kau perlu terus berjuang agar kamu bisa membalas cinta dari keluargamu yang tak pernah berhenti berharap, bahkan saat harapan itu sendiri seolah menjauh. Ingat bahwa kau pernah merasa bersyukur karena meski kau menderita, kau punya keluarga yang selalu mendukungmu.

Hidup tidak akan pernah menjadi mudah. Kita yang harus menjadi kuat. Dan, kita memang akan kuat karena iman, pengharapan dan kasih yang kita punya.

Make me proud, Mrs. Zelie.

Masa lalu bukanlah suatu hal yang harus disesalkan, tetapi untuk menjadi pembelajaran. Jangan berusaha mengubah masa lalu, ciptakanlah masa depan sesuai dengan harapanmu.

Cheers!

😀

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Saya di Masa Depan – Writing Challenge Day 10

  1. Pingback: #30HariMenulisSuratCinta : Maju-Mundur | Miss ZP

  2. Pingback: #TantanganMenulis – Dear Future Me | Miss ZP

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s