S4 [1]

Okay, mulai hari ini memutuskan untuk berbagi kisah tentang apa yang sering terjadi di dunia saya.

Mau dibikin seri juga, judulnya ‘S4’, akronim yang akan saya rahasiakan sampai saya bosen sendiri merahasiakannya.

Ide ceritanya sederhana, dari pengalaman saya sendiri, as always.

Pengalaman yang membuat saya melongo. Melengos. Melambai. Melipir.

Pokoknya pengalaman yang bikin saya merasa, “Ini harus diceritain di blog!”

Lalu, apa bedanya dengan post saya yang lain? Hm, kebanyakan post saya kan lebih ‘serius’, kalau ini sedikit santai kali, ya.

But, please don’t expect me to share funny stories. Saya sangat tidak pandai melucu atau menulis cerita kocak.

Saya cuma ingin berbagi cerita karena saya percaya, semakin sering kita berbagi cerita, semakin banyak yang bisa kita kenang daripada hanya disimpan sendiri.

Nah, sebagai edisi perdana, saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya saat kebetulan sedang menerima telpon dari pelanggan.

Di tempat saya bekerja, saat melakukan order online, pelanggan akan mendapatkan nomor transaksi dan diberikan waktu tiga hari untuk membayar. Bila tidak ada bayaran, maka order akan terhapus secara otomatis dari sistem.

Suatu hari..

“–dengan Zelie,ada yang bisa dibantu?”

“Neng, Ibu mau nanya nih -” Selama sedetik, saya cuma bisa nyengir karena baru pertama kali saya dipanggil ‘neng’ lewat telpon. Kemudian membayangkan saya dengan menyiapkan gado-gado buat pelanggan, ngulek cabe sambil ngoceh.. #abaikan

“Iya, ada yang bisa saya bantu, Ibu?”

“Gini ya neng ya, Ibu kan kemaren pesen, ya. Terus, ternyata pas Ibu cek eh duitnya enggak cukup. Nanti baru ada lagi tanggal 15. Boleh enggak, bayarnya nanti aja?” -fyi, hari itu sekitar awal bulan,anggaplah tanggal 1.

“Oh, begitu. Enggak apa-apa, Bu. Nanti Ibu ulang aja pemesanannya.”

“Enggak bisa nunggu tanggal 15 aja, ya?”

“Tidak bisa, Ibu. Sistem kami akan secara langsung membatalkan order kalau sudah lewat tiga hari tidak ada pembayaran.”

“Ibu pasti bayar kok, Neng!”

“Iya, Bu, tapi ini sudah langsung terhapus oleh sistem karena ka..”

“Tapi,Ibu suka banget sama id transaksinya..”

“..iya, Ibu?”

“Soalnya, ini ada tahun lahir suami saya. Gampang dihafal. Ini nih, saya sebutin –Tuh, saya afal, kan?”

Dan saya pun jadi speechless.

Enggak begitu inget apa yang akhirnya saya sebut selanjutnya, tapi ya sudahlah, yang penting percakapan itu berakhir.

Yang saya inget, saya langsung ngakak bareng temen-temen laen.

“Aduh Bu, neng gagal paham deh sama Ibu~ Dikira ini nomor perdana kali yak, bisa dipilih dan harus diapalin..” @-@

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s