Jodoh?

Sesuai janji saya di blog buku, saya ingin membahas tentang sebuah adegan dalam novel Always with Me yang menarik perhatian saya:

“Padahal bisa saja aku ini adalah takdirmu?”

“Kalau kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, tidak akan seperti ini jadinya.” -hlm.362

Always with Me sendiri bercerita tentang Song Hwa, gadis dengan kehidupan bak Cinderella yang tidak percaya dengan takdir. Ia bertemu dengan Sang Yup, sang pangeran serba sempurna yang percaya takdir mempertemukan mereka. Benarkah? Review saya lebih lanjut untuk buku tersebut bisa dilihat di sini -> Always with Me

Saya, seperti Song Hwa, saat ini tidak percaya dengan yang namanya takdir. Dalam keyakinan saya, segala hal yang terjadi dalam hidup kita diijinkan Tuhan agar terjadi. Meski demikian, segala keputusan ada di tangan kita.

Jadi, saya tidak percaya dengan konsep jodoh yang selama ini terkenal. Bahkan, saya sering dengan tegas berucap, “Saya tidak percaya jodoh.”

Setujukah kalau saya bilang banyak orang yang mengaitkan jodoh dengan takdir?

Ternyata, KBBI saja tidak setuju. Ini arti jodoh berdasarkan KBBI:

jo·doh | 1 n orang yg cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan: berhati-hatilah dl memilih –; 2 n sesuatu yg cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: mana — sepatu ini; 3 a cocok; tepat: ia telah meminum obat itu, tetapi tidak –;

Coba dilihat, sama sekali tidak ada unsur ‘takdir’ atau ‘sudah seharusnya seperti itu’.

Kalau dipikir-pikir, kekacauan konsep tentang jodoh ini bisa disebabkan karena celetukan orang-orang yang suka bilang, “Wah, memang jodoh!” atau “Ah, kalau jodoh kan enggak akan lari kemana!”

Banyak orang yang akhirnya mengartikan secara harafiah sehingga akhirnya enggan berusaha. Menunggu mendapat jodoh yang baik. Berharap mendapat jodoh yang baik.

Padahal, darimana kita tahu itu yang baik saat kita sendiri tidak berusaha dan mengevaluasi? Bahkan untuk mendapatkan gelar sarjana saja kita harus menjalani ujian.

Masa’ untuk proyek seumur hidup seperti menikah kita akan pasrah saja dengan yang kita sebut sebagai ‘takdir’?

Lalu, bicara soal takdir, masih berhubungan dengan adegan yang saya kutip di awal post, antara yakin dan ngeyel itu sebenarnya beda tipis.

Beberapa orang segitu yakinnya bahwa dia berjodoh dengan orang yang disuka. Sayang aja beda keyakinan. Dia yakin, yang ditaksir enggak yakin 😀

Lalu, akhirnya bertahan dengan dalih -> “Aku percaya dia adalah jodohku dan aku akan memperjuangkannya.”

Cuma satu pertanyaannya. Sampai kapan?

Hoo, bukannya saya orang yang bisa dengan begitu saja berhenti sayang pada orang yang tidak membalas perasaan saya. Saya sangat mengerti bahwa itu butuh waktu.

Hanya saja, harap diperhatikan: 1. Terimalah kenyataan bahwa dia memang tidak membalas perasaanmu | 2. Kalau pun kamu merasa perlu berubah, berubahlah untuk dirimu, bukan untuk mendapatkan cintanya atau balas dendam. Enggak guna dan bikin sakit hati sendiri.

Daripada menunggu jodoh atau memaksa seseorang percaya kita adalah jodohnya, lebih baik kita membentuk diri sendiri menjadi lebih baik lagi agar bisa mencinta dan dicinta dengan sepenuhnya.

Wah, rasanya saya jadi mirip Mario Teguh setelah bicara seperti itu 😀

Ada hal yang bisa kita ubah. Berusahalah sebaik mungkin agar menghasilkan yang terbaik.

Ada hal yang tidak bisa kita ubah. Belajarlah menerima agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Punya jodoh atau tidak, yang penting happy!

Cheers!

😀

Advertisements

4 thoughts on “Jodoh?

  1. Pingback: [Book Kaleidoscope 2013] Top Five Memorable Quotes | Me: Book-admirer

  2. hihi. kalo chei ngga percaya bahwa jodoh itu takdir, aku justru sebaliknya. yang mainstream.
    konsepku gini,
    kita berjodoh dengan sesuatu itu adalah ketika kita memilikinya.
    kalo dalam konsep berjodoh dengan seseorang, berarti ketika kita menikahinya.
    thats my point.
    dengan demikian saya percaya seseorang/sesuatu berjodoh atas nama takdir.

    • Sebenernya sih kalau konsepnya kayak yang Ziyy bilang, berarti jodoh itu adalah saat kita memiliki kan ya?
      Masih agak cocok sih sama arti jodoh di KBBI.
      Yah, tiap orang emang punya keyakinan dan pemahaman sendiri sih, hehehe :p

      • hu um, kalo menurutku ngga bisa bilang kita berjodoh sama si ini atau si itu kalo kita belum menikah dengannya.
        tapi kalo bilang (atau berdoa kenceng-kenceng) ‘semoga berjodoh’ ya gapapa. X)

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s