Antara Cinta dan Obsesi

Hi!

Sudah baca postingan saya beberapa waktu yang lalu: Hopelessly Devoted to You ?Jika belum, silahkan dilihat ya, karena ada sedikit hubungannya dengan apa yang akan saya bahas saat ini.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama yang berujung dengan curhat colongan. Well, sepertinya memang kalau ngobrol sama temen itu susah ya kalau enggak berujung dengan curcol. Benar, kan? 😛

Salah satu topik yang menurut saya cukup menarik dalam pembahasan tersebut adalah saat berbicara tentang ‘Obsesi’. Bagaimana membedakan antara memang benar cinta dan sekadar terobsesi?

Saya jadi teringat dengan sebuah lagu yang sempat menjadi lagu wajib di playlist: The Man Who Can’t Be Moved by The Script. Maybe later I will write about it, too.

Anyway, kembali ke masalah cinta dan obsesi. Teman saya bercerita tentang bagaimana dia masih ngarep bisa balikan saya mantannya. Dia juga cerita kalau kebanyakan temennya yang lain (sebenernya saya agak enggak yakin dia punya banyak temen yang lain, tapi, oke ini bisa diabaikan) menganggap dia sudah sampai di level ‘obsesi’.

Kenapa dianggap obsesi? Karena sebenarnya mereka putus sudah cukup lama dan temen saya ini sudah beberapa kali mengajak mantannya balikan tapi ditolak. Juga, sebenarnya alasan mereka putus itu cukup kuat dan bisa diterima.

Yang menjadi keluhan dari teman saya (selanjutnya kita sebut saja sebagai Bain, dilarang protes, suka-suka saya dong mau kasih nama apa) adalah, dia merasa tidak terima saat orang berkata bahwa dia sudah sampai di level obsesi.

Menurut dia, kenapa disamakan dengan obsesi? Terus, apakah salah?

Sambil mendengarkan curhat Bain, saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat saya sedang dekat dengan seorang teman yang lain, sebut saya namanya Fili (jangan Kili, saya terlalu suka Kili dan sekali lagi, silahkan abaikan).

Fili adalah salah satu teman saya yang baik dan perhatian sama saya. Bahkan, saya pernah menobatkan dia sebagai teman yang paling saya sayang karena saya enggak bisa marah sama dia. Kalau diinget-inget tentang itu, yang ada di pikiran saya adalah, “Ya ampun alaynya dirimu, Zelie..”

Saking sayangnya saya sama dia, saat Fili meminta saya menjadi pacarnya, saya merasa harus menolak. Saya merasa nyaman menjadi teman dia dan saya tidak mau kalau ternyata hubungan kami tidak berhasil, kami menjadi tidak akrab lagi.

Fili beberapa kali meminta saya menjadi pacarnya. Dan saat saya akhirnya mulai terbesit pikiran untuk menerima dia, keraguan juga muncul. Apakah dia benar memang sungguh sayang pada saya? Apakah ini cinta, bukan obsesi?

Saya meragu seperti itu karena saat itu, sebenarnya kami sudah sempat hilang kontak selama beberapa lama. Saya akui bahwa saya sudah merasa nyaman dan memikirkan kemungkinan untuk menjalin hubungan dengan dia. Hanya saja, benarkah perasaan dia kepada saya bukan sekedar obsesi?

Insecure? Bisa jadi. Selain itu saya juga merasa, apakah benar ini adalah cinta, bukan perasaan nyaman karena telah terbiasa?

Saya merasa bahwa semakin saya peduli, semakin saya takut kehilangan. Semakin sayang, semakin saya ingin memastikan bahwa dia akan bahagia bersama saya. Kalau saya sendiri meragu, apakah saya tidak menyakiti dia, juga diri saya sendiri?

Pada kasus saya, saya bukan hanya meragukan perasaannya kepada saya adalah obsesi. Saya pun meragu, apakah saya memang cinta atau hanya bahagia karena memiliki seseorang yang terobsesi pada saya?

Sampai dengan saat ini, secara jujur saya pun tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Yang saya tahu, kita tidak bisa memilih orang yang kita cinta tapi kita sendiri yang memutuskan apakah cinta tersebut layak dipertahankan atau tidak.

Kembali ke Bain, saya sendiri tidak yakin apakah kasus dia bisa disebut sebagai obsesi atau cinta. Karena itu selalu kembali ke diri sendiri. Dia yang harusnya paling tahu apa yang sesungguh-sungguhnya dia rasakan.

Cinta memang bisa membuat kita rela menunggu. Tapi.. benarkah, kita menunggu dengan sabar karena cinta? Dinanti memang membuat kita merasa tersanjung. Hanya saja, yakinkah kita bahwa dia memang menanti, bukan sekedar ‘penasaran’?

Lagi, jawabannya hanya bisa ditemukan saat kita jujur pada diri sendiri.

Cheers!

😀

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s