Saat Pisah Tak Terucap

Sejak lama saya memiliki semacam rasa ingin tahu yang besar terhadap kematian.

Setiap kali melihat berita kematian, saya ingin tahu lebih dalam tentang kehidupan orang tersebut sebelumnya. Perasaan orang terdekat yang ditinggalkan. Detik-detik menjelang kematian.

Bahkan kalau saya bisa mendapatkan gambaran apa yang dirasakan atau dipikirkan saat menjelang kematian, saya akan sangat tertarik.

Kenapa? Saya tidak begitu yakin apa alasannya. Sepertinya karena saya sendiri tidak bisa membayangkan tentang kehidupan setelah kematian. Saya takut menghadapi kematian. Saya khawatir kalau saya tidak akan sempat membiarkan orang lain tahu siapa saya sebenarnya. Saya tak bisa berhenti memikirkan, apa orang lain akan mengenang saya dengan cara yang saya ingin?

Tapi di atas itu semua, saya lebih takut apabila saya harus kehilangan orang yang sayang tanpa pernah sempat memberi tahu seberapa besar saya peduli.

Hanya saja, saya harus mengakui bahwa saya bukanlah orang yang pintar mengungkapkan kepedulian saya dengan perbuatan. Bahkan, meski saya selalu mengatakan bahwa saya lebih senang curhat lewat tulisan, ada saatnya tak ada kata yang bisa menggambarkan apa yang sangat ingin saya sampaikan.

Kemarin, saya sedang sibuk menyeleksi pesan di dalam SIM card saya yang lama karena hendak saya oper untuk kakak saya. Pesan yang paling lama membuat saya terdiam cukup lama saat membacanya, sebelum akhirnya mengucap pelan ke kakak saya, “Enggak kerasa ya, udah mau setahun.”

Ya, sudah hampir setahun berlalu sejak Emak -alias nenek saya, meninggal.

Saya sudah berulang kali berkata bahwa saya percaya orang yang meninggal sudah berbahagia bersama Tuhan. Tidak perlu lagi merasakan kesakitan. Tidak ada lagi kekhawatiran.

Yang tersisa adalah kenangan.

Sampai dengan hari ini, saya masih sulit untuk percaya bahwa saya tidak akan pernah bertemu dengan Emak lagi -setidaknya tidak dalam waktu dekat ini, atau di dunia ini, atau kehidupan ini,apapun istilahnya.

Saya tahu saya tidak perlu khawatir karena beliau sudah bahagia. Sudah tenang. Damai. Saya juga tahu bahwa ini adalah yang terbaik dari Tuhan untuk beliau.

Tapi yang sampai dengan hari ini tidak bisa berhenti saya sesalkan adalah, saya sangat yakin bahwa saya belum cukup membuat beliau tahu bahwa saya sangat peduli padanya. Sangat.

Dan untuk itulah, saya menyesalkan setiap penundaan yang saya lakukan saat akan menelpon beliau. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya bukanlah orang yang pintar berbasa-basi. Saya bukan orang yang pintar menarik perhatian.

Dan akhirnya, saya hanya bisa menyesalkan setiap menit dan kesempatan yang pernah ada dan saya sia-siakan begitu saja.

Keingintahuan saya akhirnya terjawab. Penyesalan karena merasa tidak ‘memiliki ending yang manis’ dengan orang yang meninggalkan kita, rasanya menyakitkan.

Sekarang, saya berusaha sebaik mungkin untuk bisa memberitahu orang terdekat saya bahwa saya peduli.

Saya tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.

“I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn’t do.

Go to the ends of the Earth for you,

To make you feel my love..”

I can’t help but to wish you were still here, Emak. Kalau aja bisa -dan Zelie sangat berharap bisa,  Zelie sangat ingin bisa memberi tahu Emak lebih sering kalau Zelie peduli. Mungkin tidak dengan kata, setidaknya dengan perbuatan. Atau dengan keduanya. Apa pun.

I’m sorry, God. I still can’t get over it..

Advertisements

4 thoughts on “Saat Pisah Tak Terucap

  1. Pingback: Zelie Petronella

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s