Jika Sebatas Mimpi

Kemarin, atas nama kerandoman, saya menelusuri blog teman saya dan menemukan sebuah post yang menarik (untuk saya, tentunya) tentang bertemu seseorang dalam mimpi.

Membawa saya ke dalam sebuah pemikiran, “Ah, Y sangat jarang muncul di dalam mimpi saya. Mungkin saya tidak terlalu peduli terhadap dia.”

Sekadar catatan, Y adalah seorang yang sekian tahun menjadi inspirasi dalam hampir setiap tulisan saya.

Nope, bukan David Garrett. yaiyalahya

Beberapa orang pernah muncul dalam mimpi saya. Bahkan beberapa dari mereka menjadi pacar saya dalam mimpi, walau kenyataannya kami hanya murni teman. Percayalah, beberapa memang saya anggap murni teman. Bahkan sampai saya memimpikan mereka, saya tidak sungguh-sungguh menginginkan mereka menjadi pacar.

Kenapa Y tidak pernah?

Saya lalu teringat bahwa saya pernah memimpikan Y. Hanya saja, bukan sebagai pacar. Dia selalu muncul sebagai ‘pahlawan’ di dalam mimpi. Salah satu yang saya ingat adalah saat saya bermimpi saya sedang akan dirampok. Y muncul dan menyelamatkan saya.

Apakah kejadian selanjutnya kayak adegan di Superman atau Spider-Man? Itu lho, sang pahlawan bertatapan intens dengan tokoh yang diselamatkan.

Tidak.

Di dalam mimpi, dia ‘hanya’ menjadi seseorang yang bisa saya andalkan. Kurang lebih sama dengan di dalam kenyataan.

Oh ya, kali lainnya, saya memimpikan dia terjebak di dalam kebakaran. Mimpinya kurang lebih begini: Y dan saya bertengkar untuk alasan yang sebenarnya sepele. Saya pergi dengan perasaan kesal. Kemudian saya mendengar kehebohan,ada kebakaran padahal Y masih ada di dalam gedung. Histeris, dong.

Kemudian saya terbangun (di dalam mimpi), untuk kemudian diberitahu oleh kakak saya bahwa itu bukan mimpi.

Kebayang kan, gimana histerisnya saya pas saya benar-benar sudah bangun dari mimpi?

Cuma mengingatnya sudah bisa bikin saya sedih. Padahal cuma mimpi.

Dan kembali ke soal posting teman saya, mungkin saya terlalu menghayati pemikiran saya atas posting tersebut. Karena tadi malam saya terbangun sampai 2x saat tidur, sehingga 3x bermimpi.

Ya, semua mimpi saya melibatkan Y.

Jangan tanya saya mimpi apa karena saya tidak bisa mengingat dengan jelas. Yang pasti, dia ada di sana.

Mungkin saya terlalu terpengaruh oleh tulisan teman saya. Bisa juga saya memang merindukan Y.

Pertanyaannya, apakah salah bila saya merindu Y?

Itu, adalah pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Saya pernah menjalani sekian tahun yang ‘baik-baik saja’ tanpa Y. Saya juga memiliki sekian kenangan indah bersama dia. Ini membuat saya teringat pada satu adegan di (500) Days of Summer.

Rachel Hansen: Look, I know you think she was the one, but I don’t. Now, I think you’re just remembering the good stuff. Next time you look back, I, uh, I really think you should look again.

source: IMDB

Benar, kan?

Seringnya, saat mengenang, kita hanya fokus pada hal yang baik yang diberikan. Which is good, kalau membicarakan soal orang yang sudah meninggal. Tapi, dia yang saya pikirkan dan dia yang ada di pikiranmu, belum. Atau mungkin sudah, tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut ke sana.

Merelakan bukanlah hal yang mudah. Apalagi kalau kita terus mengingat kenangan manis bersamanya. Padahal, harusnya kita mengingat dengan jelas apa yang menyebabkan semua itu tinggal kenangan.

Saya adalah salah satu dari sekian orang yang percaya bahwa cinta berarti berjuang bersama. Apa artinya kita berjuang kalau yang diperjuangkan tak menginginkannya?

Saya -sama seperti kalian semua- ingin dicintai sama besarnya dengan saya mencintai dia. Apa gunanya mencinta tak berbalas?

Cinta memang tanpa pamrih. Tentu. Saya akan melakukan apapun yang saya bisa untuk memastikan dia berbahagia.

Kebahagiaan dia, bukanlah bersama dengan saya. Mengapa saya harus menyiksa diri sendiri untuk berharap? Bukankah saya hanya ingin dia bahagia?

Kenyataan tidak semudah itu. Perasaan tidak sesederhana itu.

Cinta memang sederhana. Harapan yang membuatnya rumit.

Saya tidak ingin sering memimpikan dia. Ya, saya memang merindukannya. Tapi bukankah lebih menyakitkan untuk bisa bertemu dengan dia dalam mimpi, hanya untuk terbangun dengan perasaan yang jauh lebih hampa daripada sebelumnya?

Beberapa dari kalian mungkin tahu quote ini:

dan kemudian menuding saya, “Tuh, jangan menyerah!”

Saya sendiri sempat terkesima selama beberapa saat.

Apa yang saya rasakan tidak bisa saya ubah dalam sekejap mata. Yang saya tahu hanyalah, saya tidak ingin hidup hanya dalam impian. Saya ingin hidup di dalam realita, semenyakitkan apapun itu.

Cheers!

😀

 

another P.S on my post: dulunya saya tidak begitu suka menggunakan gambar di dalam post karena sedikit ganggu, menurut saya. Lebih cocok ke tumblr, tapi…rasanya OK aja sekarang kalau pake di wordpress. So, enjoy!

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s