[To be the Happy Me] Jujur pada Diri Sendiri

Belakangan ini saya kepikiran, “Apa saya bahagia dengan apa yang saya lakukan?”

Saya sering merasa bahwa saya kurang baik mengatur waktu. Memilih prioritas. Menyaring tugas.

Saya sendiri sedang berusaha keras mengatur diri saya agar disiplin dan efisien.

Hanya saja, mengapa semakin lama terasa semakin berat?

Awalnya saya merasa bahwa saya hanya terlalu nyaman dengan pola saya yang ‘sembarangan’. Kemudian saya berpikir lagi karena rasanya ada yang salah.

Apa saya tetap merasa gagal karena sesungguhnya belum melakukan yang saya mau?

Hmmm… rasanya tidak. Ini adalah yang paling dekat dengan impian saya. Ini adalah apa yang saya mau. Mengapa saya masih merasakan ini sebagai beban?

Saya sering merasa iri dengan teman yang bercerita bagaimana ia menikmati apa yang dilakukan. Walau lelah, tapi ada rasa puas yang didapatkan.

Saya lelah. Tapi saya tidak merasa puas. Saya ingin menyerah dan berbalik arah. Saya ingin menempuh jalan yang lain.

Saya takut kalau saya selama ini berjalan ke arah yang salah. Saya takut kalau apa yang saya yakini selama ini salah. Saya takut kalau apa yang saya lakukan, impikan dan nantikan adalah sia-sia.

Sewaktu saya masih remaja, saya akan melakukan apa saja yang saya suka. Seiring dengan berjalan waktu, saya tidak yakin saya bisa melakukan apa saja yang saya suka.

Menjadi dewasa itu melelahkan. Memiliki tanggung jawab yang terkadang tidak kita bayangkan harus kita ambil.

Saya masih percaya bahwa bahagia itu pilihan. Menangis juga bukan tanda menyerah.

Sering terjadi pergolakan batin pada saya, bertanya apa yang saya inginkan.

Ingin menyerah tapi hati berkata INI yang saya mau. Ingin mengambil langkah ekstrim tapi pikiran mencegah berbuat konyol.

Saya bertanya, “Lalu apa yang sebenarnya saya mau?”

Perasaan tak berdaya, seringkali saya cegah untuk muncul karena saya merasa itu menyakiti diri sendiri. Saya memang punya gengsi yang cukup tinggi.

Saya, masih terus belajar untuk jujur pada diri sendiri.

Mungkin yang paling awal adalah terus mengingat bahwa saya memanglah tak sempurna dan tak perlu menjadi sempurna. Saya hanya perlu mencintai diri saya seutuh-utuhnya.

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s