Mini Heart-Attack

Sudah hampir dua bulan saya mencoba mengganti pola hidup sehat. Mengatur pola makan dan juga gabung di pusat kebugaran.

Awalnya merasa cukup di dekat rumah saja. Ternyata, rame. Saya merasa gak cukup puas dengan waktu dan pketersediaan alat yang terbatas. Harus ngantri. Jadi saya putuskan pindah ke tempat yang sedikit lebih lengkap.

Dari awal saya akan mendaftar, saya memang sedang berusaha mengingat-ingat. Kalau gak salah,mantan saya juga member di tempat saya akhirnya mendaftar.

Sempat kepikiran, tapi ya sudahlah, harusnya gak masalah, ya.

Saya menjalani latihan dengan biasa saja. Saya yang tadinya capek banget setelah melakukan jalan cepat atau sepedaan (maaf ya, saya gak niat hafal nama alatnya) selama 30 menit, lama-lama terbiasa.

Papa sudah mengingatkan agar rajin latihan, supaya gak malah jadi lebih cepet capek karena badan menyesuaikan lagi.

Dasar bandel, saya sudah hampir seminggu bolos. Akhirnya tadi pas latihan baru 30 menit saja sudah capek banget.

Setelah mencoba beberapa variasi alat, akhirnya saya nyerah dan mau pulang aja.

Lalu saya berpapasan dengan sekelompok orang yang baru saja selesai bersepeda gembira bersama.

Dan ada mantan saya di antara kerumunan itu.

Jeng jeng jeng!

Saya panik. Mau ngumpet gak bisa karena…ya begitulah. Mau bertingkah biasa aja kok susah.

Padahal mah dia kayaknya gak liat saya. Dia jalan lempeng aja. Saya jalan agak jauh di belakang dia, memastikan dia gak akan ngeliat lalu buru-buru ke kamar mandi cewek.

Sebagai ababil, saya langsung share ke temen soal temuan saya di gym hari ini.

Komentar temen saya adalah, “Mantan yang mana?”

Huft. Sangat menenangkan.

Akhirnya saya pun pulang dengan pikiran harus mengganti jadwal latihan. Sambil berusaha mengingat jadwal latihan sang mantan yang dulu pernah dia sebutkan ke saya.

Tapi itu kan udah hampir 4 tahun yang lalu ._.

Lalu saya teringat saat terakhir kali saya jalan bareng sama dia. Saat itu kami sudah putus.

Tiba-tiba saja dia menghubungi saya dan mengajak saya nonton. Saya mengiyakan.

Saat itu saya hanya ingin meyakinkan hati saya.

Dan ternyata, saya tidak merasakan apa-apa saat bersama dengannya. Gak berasa deg-degan. Gak berasa pengen denger suaranya terus. Malah pengen cepet pulang.

Setelah pulang pun, saya sudah tidak berminat mengontaknya lagi. Dia pun tidak menghubungi saya lagi, mungkin sadar dengan sikap saya yang cuek.

Itu sudah 3 tahun lalu.

Teringat kejadian tersebut, saya lalu berpikir kembali. Nah, sudah pernah jalan bareng aja berasa biasa. Kenapa sekarang panik padahal nyapa aja gak?

Sepertinya saya sudah sedikit terpengaruh dengan pendapat “Bertemu mantan adalah nasib sial”.

Padahal, tidak ada untung atau pun rugi bertemu dengan mantan. Kecuali mantan kalian mengincar kalian seperti psikopat di serial TV kriminal.

Mereka pernah ada di dalam hidup kita, itu suatu hal yang gak bisa kita hindarkan atau batalkan. Bertemu mereka tak ada bedanya dengan teman yang sudah lama tak kita temui.

Susah untuk menjadi biasa tapi gak perlu juga sih sampai menghindar macam ababil seperti yang saya lakukan tadi.

Kita memang perlu mengakui kalau mereka pernah menjadi bagian dari hidup kita. Tapi, yang lebih harus diingat adalah alasan mengapa mereka akhirnya hanya menjadi bagian masa lalu.

Advertisements

7 thoughts on “Mini Heart-Attack

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s