Jangan Ada ‘Read’ di Antara Kita

Semua berawal dari kehebohan yang ditebarkan oleh Selvi di grup Serapium. Dia klaim kalau saat mengirim pesan pribadi lewat Whatsapp, tanda centangnya berwarna biru. Bukan abu-abu.

Lalu sementara semua sibuk menyebut kalau Selvi saja yang begitu, akhirnya muncul link berisi berita bahwa centang biru tersebut adalah tanda bahwa pesan sudah dibaca oleh si penerima pesan.

WHAT?!

Saya sangat menyesalkan keputusan Whatsapp membuat status ‘Read’. Membuat dia sama saja seperti mantan-mantan IM yang lain. Sudah begitu, dia nyebelin banget, bisa langsung add lewat no. telpon.

Tapi tetap saja saya gunakan dengan alasan butuh komunikasi dengan orang lain 😄

Buat yang penasaran dan masih gak ngerti apa yang saya maksudkan, bisa lihat di FAQ Whatsapp.

Di situ dijelaskan tentang fitur terbaru ini dan juga beberapa kemungkinan kamu tidak menerima pesan centang biru seperti kebanyakan anak gaul orang lainnya.

Salah satu alasan yang paling menarik dan masuk akal buat saya adalah:

They could be sleeping, especially if they live in a different time zone

Tentu saja alasan tersebut gak berlaku buat yang lagi kasmaran. Biarpun mata udah sepet banget, memangnya rela untuk menyudahi percakapan bersama yang tersayang? Meski sering juga sih, percakapannya gak penting.

Balik ke soal status Read di Whatsapp, menurut saya fitur tersebut sangatlah tidak penting. Sama tidak pentingnya dengan status “Typing”.

Kenapa? Karena kedua status tersebut hanya untuk memuaskan keingin tahuan si penerima.

Saya sudah memikirkannya sejak lama dan masih belum bisa menemukan manfaat dari “Typing” dan “Read”.

Buat saya, kedua status tersebut malah lebih sering jadi semacam bahan buat berantem. Coba, seberapa sering kalian mendengar ucapan, “Kok kamu cuma ‘read’ pesan aku?”

Atau, “Lama banget sih, ngetiknya. Kamu lagi ngapain sih sebenernya?”

Huft.

Saya sendiri, terus terang, adalah tipe orang yang jengkel saat pesan saya dibaca dan tidak dibalas. Meski demikian, lama kelamaan saya belajar menerima kenyataan.

Gak setiap pesan yang saya kirimkan perlu dibalas. Gak setiap orang juga punya waktu buat nanggepin obrolan saya yang random.

Cuma karena mereka gak nanggepin saya di chat, bukan berarti mereka bukan teman saya. Belum tentu juga yang rajin nanggepin saya di chat memang tulus.

Bisa saja mereka membalas dengan ‘Hahahaha’ padahal sambil ngedumel dan bilang ke orang lain kalau saya adalah seorang gadis yang gak punya kerjaan lain selain gangguin orang lain lewat chat.

Intinya, status ‘Read’ gak bikin hidup jadi lebih mudah atau bahkan lebih indah. Yang ada malah kita seolah dibawa untuk semakin tidak sabar dan memiliki toleransi yang rendah.

Gak mau ngaku? Ayolah, apa kalian tidak pernah mengalami perasaan jengkel saat melihat status ‘Read’?

Saya percaya kalian pernah mengalami setidaknya salah satu dari beberapa skenario di bawah ini.


 

Skenario 1

Sedang janjian sama teman. Kamu sudah sampai di tempat tujuan dan sedang celingukan mencari temanmu. Kamu kirim pesan, bertanya dia di mana. Hanya ‘Read’ yang menjadi jawaban.

Bisa juga, kamu sedang dalam perjalanan dan masih mencari tahu cara ke tempat janjian kalian. Atau bertanya apakah temanmu sudah sampai. Dan, ya, hanya ‘Read’ yang menjadi jawaban.

Sudah lewat 5 menit dia belum menjawab, apa kamu tidak jengkel?

Padahal, bisa saja kan temanmu sedang kesulitan sinyal sehingga saat membalas pesanmu, berkali-kali gagal (sering banget terjadi sama saya). Dan bisa juga, sebenarnya dia sudah membalas dan kamu yang kesulitan sinyal (pernah juga terjadi di saya).

Atau, bisa saja dia sedang bertanya ke teman yang lain untuk memastikan keabsahan jawaban dia, dalam hal tanya rute.

Skenario 2

Kamu sedang berdiskusi asyik dengan teman atau *uhuk* gebetan.

Lalu tiba-tiba, di tengah percakapan kalian yang seru itu, tidak ada balasan lebih lanjut. Hanya ‘Read’ yang hadir di antara kalian.

Kamu jadi bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?

Apa kamu sudah mengucapkan suatu hal yang menyinggung temanmu? Apa gebetanmu sedang asyik bermain game dan mengabaikanmu?

Kau membaca ulang setiap hal yang kamu kirimkan. Merasa bahwa semua baik-baik saja. Lalu jadi merasa gebetanmu mungkin sudah bosan bicara denganmu.

Sementara, teman kamu sudah tertidur pulas dengan  laya smartphone masih menyala, sehingga terus mengirimkan notifikasi ‘Read’ ke setiap pesan yang terkirim. Atau, gebetanmu merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan.

Ingat, terkadang apa yang kita anggap suatu hal yang sangat menarik belum tentu dianggap demikian oleh orang lain. Atau, apa yang kita anggap sebagai suatu hal yang perlu dibalas, orang lain juga menganggap demikian.

Skenario 3

Atau masih mirip dengan skenario 3.

Di tengah percakapan yang seru, kau sudah melihat lawan bicaramu sedang mengetik jawaban. ‘Typing…’

Lalu kau terus menunggu dan menunggu. Tapi jawabannya tidak juga muncul.

Sudah 5 menit berlalu dan belum ada pesan yang masuk.

Kau jadi jengkel. Penasaran, tepatnya. Kenapa lama banget sih dia balesnya? Ngetik apa dia sampe selama itu?

Dan ternyata…temanmu sedang mengetik balasan saat muncul panggilan telpon dari pacarnya tersayang. Tentu saja dia lebih senang menerima telpon dari pacar, kan?

Skenario 4

Kali ini saya ingin mencoba mengandaikan kalau misalnya pesan kita diabaikan begitu saja oleh penerima.

Kita mengirim pesan kepada teman kita untuk janjian. Untuk memberi kabar penting. Untuk menanyakan hal yang menurut kita perlu jawaban segera.

Berapa lama kita akan menunggu jawaban dari dia?

Ada salah satu teman saya yang sangat menyebalkan. Kalau saya tidak membalas pesan dia segera setelah dia kirim, maka dia akan memberondong saya terus.

‘Oiii’, ‘Hoy…’, ‘Woy…’ adalah kata yang paling sering digunakan saat chat dengan saya.

Lucunya, dia tidak akan melakukan aksi menyebalkan tersebut kalau saya langsung baca pesannya atau cuma bilang ‘Bentar’.

Kalian mungkin akan bilang kalau gitu pemecahan masalahnya mudah,dong. Langsung baca aja pesan dari dia.

Enak aja. Kalian pikir, saya selalu punya waktu untuk itu?


 

Nah, dari keempat skenario yang saya sebutkan di atas, bagaimana pendapat kalian?

Apa kalian sekarang setuju dengan saya bahwa ‘Read’ lebih sering membawa pengaruh jelek daripada bagus?

Saya terus terang rindu dengan masa lalu. Di masa saya bocah, berkirim surat saja memang sudah jarang dilakukan. Tapi saya pribadi lebih senang menggunakan SMS daripada segala macam IM.

Saya harus mengaku bahwa saya ikut merasakan enaknya berkomunikasi cepat.

Meski demikian, saya rasa terkadang kita perlu disadarkan bahwa bukanlah kecepatan yang harus kita kejar. Yang perlu kita perhatikan adalah kualitas dari komunikasi kita.

Kalau ‘Read’ hanya membuatmu menjadi cepat curiga pada pasangan. Kalau ‘Read’ hanya membuatmu jengkel pada temanmu. Maka kau perlu berpikir ulang.

Apakah itu adalah kesalahan teknologi, sehingga membuatmu tak sabaran? Atau, itu adalah kesalahanmu sendiri, yang tak bisa menghargai kesibukan atau bahkan, kehidupan orang lain? Merasa bahwa semua harus sesuai dengan yang kamu mau.

Iya, saya juga maksa banget pengin Whatsapp tetap seperti yang dulu, tanpa status ‘Read’ 😐

Sekarang, daripada saya terus-terusan ngedumel soal ‘Read’, mendingan saya berterima kasih kepada kalian yang sudah membaca tulisan random ini.

Bersyukurlah karena WordPress belum membuat fitur yang memungkinkan blogger tahu secara pasti siapa saja yang sudah membaca tulisannya. Kalau gak, saya pasti akan rewel minta pendapat ke kalian 😄

 

Cheers!

😀

 

Advertisements

4 thoughts on “Jangan Ada ‘Read’ di Antara Kita

  1. Hahaha bener nih.
    Fitur “read” dan “typing…” di beberapa massenger tuh emang memicu rasa penasaran, kadang bikin kesel (karna cuma di read doang / lama banget di read), kadang bikin galau dan merasa di php-in, tadi nya si dia udah read, trus statusnya lagi “typing…” kita udah penasaran sama balesan dia, ga sabar liat si dia ngetiknya lama eh (satu tahun kemudian) ternyata dia ga jadi bales. Kan kampret.

  2. Pantesan batuk batuk rupanya ada yang bawa bawa nama gue. Hahahaha…

    Btw yang di tengah tengah tulisan itu curhat apa gimana sih :))

    Anw setuju sih. Kadang mendinga ga tahu apa-apa. Semakin gak tahu, semakin sedikit hal-hal yang dicemaskan 🙂

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s