Selalu Ada Senyum di Sela Duka

Sebelum meneruskan cerita, mari bersama kita berdoa agar setiap orang yang terhubung dengan cerita ini tidak membacanya. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

*lalu buat post terjadwal, setahun dari sekarang baru terbit :3

Beberapa hari yang lalu, saya datang ke acara pemakaman orangtua dari seorang yang pernah dekat dengan teman saya. Gak usah disebut namanya juga saya rasa beberapa yang baca post ini sudah tahu siapa yang saya maksudkan.

Percayalah, saya tidak sedang ingin bergosip, meledek atau semacamnya. Saya hanya teringat dengan apa yang saya rasakan, saat melihat teman saya (sebut saja Lala) bertemu dengan Momo (sebut saja demikian).

Saya sebenarnya tahu siapa Momo. Kami pernah bertemu di sebuah acara komunitas tapi belum pernah ngobrol. Makanya, saya agak sungkan mau melayat kalau tanpa Lala. Biar gimana, Lala kan lebih kenal Momo. *ya iyalah, kenal banget malahan.

Akhirnya, saya janjian sama Lala untuk melayat. Ketemu di dekat rumah Momo, supaya saya tahu jalan. Lala pasti lebih tahu jalan ke rumah Momo daripada saya 😛

Setibanya di sana, kami langsung melihat Momo dari kejauhan. Oh ya, akhirnya kami berempat yang datang melayat. Dengan kurang ajarnya, salah satu dari kami, sebut saja Kak Lili, memanggil Momo untuk menghampiri kami. Eh, untunglah Momo sudah dipanggil ke dalam. Acara tahlilan sudah mau dimulai.

Akhirnya, kami berempat duduk dengan pasrah di depan rumah. Menunggu acara selesai.

Sambil menunggu, mata saya sudah kedut-kedutan, sepertinya karena lelah. Atau bosan. Memang, saya sudah mulai mengantuk.

Lalu muncul niat kurang ajar dari antara kami, meninggalkan roti yang kami (ralat, Lala) bawa di kursi dengan pesan.

Kutinggalkan roti yang tak seberapa ini, juga cinta yang masih tersisa. Semoga bisa menghiburmu.

Oke, gak gitu juga, sih. Saya yang lebay.

Kami memang bersabar menunggu karena menurut Lala, acara tahlilan tidak akan berlangsung lama.

Benar, tak lama, acara sudah selesai dan kami akhirnya bertemu dengan Momo.

Cowok itu menghampiri kami dan akhirnya berbincang singkat dengan Lala dan juga Kak Lili. Sementara saya dan Wowo, sebut saja begitu, cuma manggut-manggut aja. Gak kedengaran jelas mereka ngomong apa, walau sebenarnya kami tidak berdiri berjauhan. Iya, saya memang rada gak bagus pendengarannya 😐

Sambil mengamati Lala berbincang dengan Momo, saya tersenyum sendiri. Bukan karena saya juga agak gak bagus kejiwaannya, tapi lebih karena saya senang mereka baik-baik saja.

Dari yang saya lihat sih, pembicaraan mereka gak canggung. Mungkin karena saya cuma di bagian yang mendengarkan, bukan yang melaksanakan.

Lala bertanya sedikit tentang momen-momen terakhir. Termasuk, adakah firasat sebelumnya?

Terus terang saya sedikit sinis dengan pertanyaan Lala. Klasik. Dan menjengkelkan, buat saya.

Bukan saya tidak percaya jika ada yang bicara bahwa dia mendapat firasat akan kehilangan orang yang disayang. Hanya saja, setiap mendengar hal tersebut, saya merasa iri. Walau, ya, benar, saya memang tidak akan merasa lebih baik dan lebih siap apabila sudah mendapat firasat sebelumnya.

Manusia, termasuk saya, memang selalu menginginkan apa yang tidak bisa didapatkan.

Anyway, kembali ke soal senyum di balik duka. Saya senang melihat Lala dan Momo baik-baik saja. Saya tahu mungkin Lala akan komentar, “Emang baik-baik aja, sih!” Tapi tetap saja buat saya itu mengejutkan.

Sekaligus membuat saya teringat saat saya kehilangan.

Yah, manusia, apalagi saya, memang egois. Senang sekali berpusat pada diri sendiri. Mengaitkan segala sesuatu dengan pengalaman sendiri.

Saya teringat bagaimana saat saya sedang merasa kehilangan, orang memiliki batas toleransi yang sangat tinggi dengan saya. Begitu juga saat saya bertemu dengan orang yang baru kehilangan, otomatis saya akan sangat sabar dan berusaha mengerti.

Oleh sebab itu, saya semakin merasa bahwa benarlah adanya kalau selalu ada senyum di sela duka.

Kedukaan seringkali mempertemukan kita dengan kawan lama, yang entah terpisahkan oleh jarak, waktu, keadaan atau pilihan.

Kedukaan pun membuat kita semakin berusaha mengerti perasaan orang lain. Bahkan, bukan tidak mungkin kita melihat sisi lain dari orang tersebut.

Entah kita melihat betapa kuatnya dia menahan kesedihan. Atau, kita malah tersadarkan bahwa sesungguhnya ia pun memiliki sisi yang rapuh.

Kedukaan membuat kita tersadar, siapa yang sungguh, berusaha, berpura-pura atau bahkan tidak peduli.

Buat saya, yang paling berkesan adalah yang berusaha peduli. Karena mungkin mereka tak bisa mengerti, ralat, mereka memang tidak akan pernah mengerti kedukaan yang kita rasakan. Percayalah, efek kedukaan tidak pernah sama untuk setiap orang.

Jadi, saat mereka berusaha peduli saja buat saya itu sudah menenangkan. Terkadang yang sungguh peduli jatuhnya malah jadi terlalu khawatir. Malahan membuat kita terus teringat akan duka kita.

Berduka bukan berarti kita tidak akan pernah lagi tersenyum. Yang berduka tentu masih bisa tersenyum.

Tinggallah kita yang memilih, apakah kita ingin tersenyum atau menangis bersama dengannya?

Saran saya, tersenyumlah bersama mereka. Orang dalam duka masih punya sangat banyak waktu untuk menangis. Setidaknya, itu yang saya rasakan.

Maka, jadilah alasan mereka tersenyum di sela duka. Seperti Lala ke Momo *lari sebelum ditimpuk

Cheers!

Zelie ♥

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s