Dulu, Sekarang dan Nanti

In response to The Daily Post’s weekly writing challenge: “Ice, Water, Steam.”

Saya sedang berusaha untuk semakin rajin menulis, terutama di blog personal.

Tergerak setelah melihat annual report dari WordPress yang, well, bisa dibilang tidak membanggakan. Apalagi melihat jauh sekali keaktifan saya di blog buku dengan personal.

Maka, saya pun mulai mencari writing challenge yang bisa memberi saya inspirasi. Caranya? Googling 😄

Hasil pertama yang muncul adalah artikel di atas. Temanya menarik, jadi segera saja saya buat post-nya.

Saya akan mengambil di bagian “Siapa saya dulu, sekarang dan nantinya”. Masih dalam suasana tahun baru, hohoho.

Kalau boleh jujur, saya sering kangen dengan saya yang dulu.

Saat saya selalu bersemangat menulis. Saat saya membaca seolah tak kenal lelah. Saat saya membuat berbagai simple artwork dan berbahagia melihat hasilnya.

Bukan berarti saya sekarang tidak senang melakukan ketiganya. Hanya saja, alasan “waktu yang terbatas” selalu muncul.

Dulu, saya sering mencuri waktu di tengah pelajaran untuk menulis puisi.
Dulu, saya menghabiskan waktu seharian untuk membuat hiasan dinding di kamar.
Dulu, saya membaca di mana saja saya berada. Entah di jalan, WC, atau saat menunggu orang lain.

Sekarang, kegiatan yang semakin banyak membuat saya sangat jarang melakukan semuanya itu. Seringnya saya sudah terlanjur lelah atau ingin mencari hiburan yang lain.

Selain masalah waktu, gak bisa dipungkiri juga kalau saya sekarang lebih asyik dengan smartphone.

Seorang pernah mengingatkan saya bahwa smartphone mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Yup, that’s very true.

Sering kan, kamu merasa bete kalau sedang berkumpul bersama teman tapi dia asyik dengan gadget?

Saya selalu berusaha agar tidak melakukannya. Tolong ingatkan saya kalau saya melakukan hal tidak menyenangkan itu.

Percayalah, saat saya meluangkan waktu untuk bersama kalian, berarti saya sangat peduli. Itu juga beda saya yang dulu dan sekarang.

Saya yang dulu adalah seorang yang cenderung “gak enakan”. Saya akan melakukan apa saja untuk bisa menyenangkan orang lain. Bahkan, mengorbankan kepentingan saya demi orang lain.

Sekarang, saya benar-benar berusaha menetapkan prioritas dalam kehidupan saya. Keluarga, tentu yang terutama. Kemudian selanjutnya adalah berdasarkan tanggung jawab yang saya punya. Lalu, hey, saya juga butuh waktu menyendiri.

Saya yang sekarang mungkin akan menyebalkan buat orang lain. Tapi saya pun percaya, kalau orang yang sungguh peduli akan mengerti.

Suatu hubungan bukan dinilai oleh frekuensi bertemu. Saat kalian saling mengerti dan membangun satu sama lain, maka hubungan tersebut sangatlah layak dipertahankan 🙂

Saya yang sekarang memang masih jauh dari sempurna.

Saya masih terus belajar untuk menjadi lebih baik.

Yang pasti, saya akan lebih membulatkan tekad lagi untuk mengejar setiap impian saya.

Saya belajar dari masa lalu, bersyukur atas yang sekarang saya punya dan mempersiapkan diri untuk yang terbaik di masa depan.

Have a good week (and year!) ahead, people.

Cheers!
Zelie

Advertisements

3 thoughts on “Dulu, Sekarang dan Nanti

  1. Pingback: Past, Present and Future: Learning & Mistakes | Ramisa the Authoress

  2. Jadi inget masa2 dulu mau internetan aja harus ke warnet, skrg internet bisa dikantongi. Perubahan itu mmg harus disikapi dgn positif supaya hasilnya jg positif. Semangat, Chei!

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s