Main Air di Bali: Parasailing

Kalau ditanya lebih suka pantai atau gunung, saya akan merasa kesulitan untuk menjawab. Keduanya selalu memberikan efek menyenangkan buat saya.

Saya senang melihat pemandangan yang indah di gunung, baik siang atau pun malam. Di pantai, tentu saja pemandangannya tak kalah indah.

Di gunung, kita akan sibuk mencari air panas untuk berendam. Di pantai, kita akan bermain air sambil panas-panasan.

Kalau saya sih, gak boleh cari es. Selain karena lagi flu plus batuk, saya punya pengalaman buruk minum es pas lagi kepanasan. Langsung mimisan 😦

Jadi, yang bisa saya lakukan saat bermain air di pantai adalah membawa air minum sebanyak mungkin biar gak dehidrasi. Jangan minum air laut ya, asin *yaiyalah

Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga pergi ke Bali untuk short-holiday. Biar praktis, Mama memutuskan pakai jasa tur lokal yang kebetulan juga masih saudara *eh bener gak ya saudara

Salah satu agenda dalam tur adalah water sport. Kalau dilihat dari rencana perjalanan, kegiatan ini akan memakan waktu hampir seharian. Wah, seru, nih!

Kami melewati jalan tol di atas laut dengan pemandangan yang keren. Lalu akhirnya sampai di Tanjung Benoa, tempat kami akan menghabiskan separuh hari.

Pemandu kami mengarahkan kami untuk bicara dengan salah satu guide dari Wibisana. Saya, baru ingat kalau saya tidak tahu namanya siapa 😐

Guide dari Wibisana, sebutlah Mbok Ayu, memberi informasi apa saja yang bisa kami lakukan.

Akhirnya setelah diskusi singkat soal keterangan lebih lanjut tentang tiap aktivitas (plus harga, tentunya *uhuk), hanya saya dan Baby yang akan main air.

Yang pertama akan kami lakukan adalah parasailing. bali 2

Gak ada foto saat saya sedang bersiap, jadi saya pakai foto Baby 😄

Parasailing ini sebenarnya seru tapi kurang bisa dinikmati setelah drama terjadi.

Ceritanya, dari awal memang Papa sempat tidak yakin mengijinkan kami ikutan parasailing. Soalnya beberapa kali terlihat orang yang hendak mendarat tampak kesulitan, bahkan seolah nyaris menabrak tenda yang menaungi kami.

Setelah diyakinkan oleh Mbok Ayu bahwa aman saja, akhirnya diberilah kami ijin.

Antrian untuk parasailing seolah gak berujung. Bukan hanya karena peminat yang banyak, tapi karena kami ‘berbagi’ pantai dengan beberapa penyedia jasa water sport yang lain.

Setidaknya ada 5 penyedia jasa yang lain. Bayangkan saja ramainya di langit dan laut, semuanya berusaha agar tidak terjadi bentrok. Ada semacam pengawasnya, kalau kata Mbok Ayu.

Berhubung lalu lintas yang ramai semacam itu, setiap dari peserta harus sangatlah tertib. Demi alasan keamanan juga, pastinya.

Saya dan Baby diminta mengenakan sarung tangan. Di kiri warna merah, di kanan warna biru. Nantinya kami harus melihat ke arah bendera yang dikibarkan kru Wibisana.

Jika bendera biru, maka berarti saya harus menarik bagian tali yang berwarna biru, menggunakan tangan kanan saya. Begitu juga sebaliknya.

Tapi, kru juga mengingatkan saya bahwa sebenarnya hanya perlu tarik tali berwarna biru. Entah kenapa. Mungkin ada hubungan dengan arah angin pada hari itu.

Lalu kami melanjutkan menunggu giliran kami. Sempat ada drama dengan seorang pria mengomel karena belum juga mendapat giliran. Sementara orang lain ikut nimbrung, dia masih ada beberapa orang dalam grup yang juga belum dapat giliran.

Saya dan Baby hanya bengong melihat drama itu. Berharap mereka sibuk berantem dan kami bisa nyelip antrian *heh

Mbok Ayu mengatakan bahwa giliran kami akan segera tiba. Bersabar saja menunggu. Ya, habisnya bisa apalagi? Kami juga yang ingin melakukan parasailing terlebih dulu. Gak enak aja, ngebayangin bakal dibawa ‘terbang’ dengan keadaan lepek abis main air.

Mama mengingatkan agar kami memperhatikan saat orang yang sedang parasailing. Supaya tahu apa yang harus dilakukan dan bisa persiapan.

Tak lama, kami melihat seorang ibu yang gagal mendarat. Sang ibu terlihat pasrah, tidak terlalu berusaha menarik seperti yang diinstruksikan.

Saya sudah bilang kan, kalau lalu lintasnya padat? Gak bisa nunggu sampai dia bisa mendarat. Jadilah dia dibawa lagi untuk berputar.

Mama kembali mengingatkan agar kami waspada dan gagal  mendarat. Saya dan Baby sempat bercanda bahwa enak juga, dapat satu lap gratis 😄

Akhirnya, tiba giliran Baby. Setelah pengait dipasang, Baby mulai berjalan cepat ke arah pantai sampai akhirnya parasut mengembang sempurna. Selanjutnya, tinggal pasrah dibawa berkeliling.

Sayangnya, Baby agak terlambat saat menarik tali. Maka, Baby pun mendapat 1 lap lagi 😄

Salah seorang kru lalu menghampiri saya dan berbicara dengan nada agak keras. Saya gak yakin pasti dia ngomong apa, sepertinya dalam bahasa Bali.

Jelas dia mengomel. Untungnya saya gak ngerti, jadi saya cuma fokus nunggu Baby mendarat.

Setelah Baby mendarat, saya langsung cepat-cepat dipasangkan kait, dibawa lari kecil ke arah pantai lalu ..terbang.

Itu alasannya kenapa saya gak ada foto pas siap-siap terbang 😐

Selama di atas, secara jujur saya tidak bisa benar-benar menikmati pemandangan. Saya terlalu sibuk memikirkan bagaimana nanti mendarat.

Begitu pantai sudah kelihatan, saya mulai sibuk menarik tali. Sampai memiringkan badan dengan penuh semangat.

Saya sudah tidak bisa mengenali yang mana kru Wibisana. Mereka terlihat kecil sekali dan yang saya hanya suara tanpa bisa mengerti apa yang diucapkan.

Semakin dekat dengan pantai, ternyata saya salah tarik. Harusnya lebih ke atas lagi. Paniklah saya.

Semakin banyak tenaga yang saya kerahkan untuk menarik sambil berdoa khusyuk. Untunglah, saya mendarat dengan selamat tanpa terkena lap tambahan.

Senang gak kena omel, tapi rada sedih juga karena gak bisa menikmati pemandangan. Mungkin lain kali harus datang pas sepi, sehingga gak riweuh dan gak kena omel kalau gagal mendarat.

Setidaknya, diomelinnya gak seseru kemarin itu. Kasihan juga, kan. Memangnya kita mau gagal mendarat? 😐

Mbok Ayu menghampiri kami dan meminta kami agar bersiap untuk sea walker. Saya dan Baby refleks mengeluh, “Yah…”

Tadinya, kami merencanakan untuk menempatkan aktivitas tersebut di paling akhir. Tapi setelah dijelaskan bahwa dua aktivitas lainnya sedang penuh, jadilah kami setuju untuk jadi sea walker.

Saya akan bercerita tentang pengalaman saya selagi menjadi sea walker di post berikutnya. Sementara itu, saya kasih hadiah foto saya lagi bersiap sea walker saja, ya.

IMG_8820_exposure

Iya, belum pakai topi “astronot” karena kami masih harus naik perahu dulu ke tempat sea walker. Dan iya, ini ekspresi ‘memandang enteng’ sea walker.

Ditunggu ya, cerita saya selanjutnya! *kedip genit

Cheers!

Zelie ♥

 

Advertisements

5 thoughts on “Main Air di Bali: Parasailing

  1. Pingback: Main Air di Bali: Sea Walker | Miss ZP

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s