#TantanganMenulis – Koi no Yokan

“Eh, sebenernya gue bingung deh, kenapa sih halte ini disebut Koi, Koi gitu?”

“Koi no yukan.”

“Koyo-nya Yuka?”

“Koi no yukan!”

“Ah, gak tau, deh. Aneh banget namanya.”

“Iya, kayaknya itu dari bahasa Jepang.”

“Oh ya? Gue malah baru denger. Emang artinya apa?”

“Kalau gak salah, keyakinan dari padangan pertama bahwa orang tersebut adalah jodoh kita.”

“Ih, aneh banget sih, ada aja kata kayak gitu. Eh, tapi lucu juga, ya! Percaya gak sih kalau kita bisa langsung tahu dari pertama kalau dia jodoh kita?”

“Kalau gue sih, percaya. Dari pertama ketemu, gue udah tahu kalau Adam itu jodoh gue.”

“Hiii, geer!”

Kedua gadis remaja tersebut cekikikan.

Halte Koi no Yokan memiliki empat tempat duduk panjang. Satu tempat duduk bisa digunakan oleh empat orang.

Hanya saja, cukup jarang orang yang menggunakan tempat duduk tersebut. Kebanyakan memilih untuk menunggu sambil berdiri agar lebih cepat.

Kedua gadis itu merasa tidak  perlu berdiri karena bus yang mereka tumpangi selalu datang di waktu yang kurang lebih sama.

Beda dengan beberapa penumpang lain yang harus siap sedia karena bus mereka bisa muncul di saat yang tak terduga.

“Mungkin gak sih, halte ini dikasih nama Kokonoyo karena banyak yang ketemu jodoh di sini?”

“Koi no yokan!”

“Ya, pokoknya semacam itulah. Mungkin, gak?”

“Ya mungkin saja, sih. Tapi aneh, sih. Memangnya kita sempat jatuh cinta saat sedang sibuk mengejar bus?”

“Bisa aja, ah. Nanti bisa jadi judul FTV, deh. ‘Kukejar Bus dengan Cinta’. Keren, kan?”

Keduanya tergelak.

Mereka tidak sempat memerhatikan kegusaran seorang wanita yang juga sedang menunggu di halte. Padahal ia berdiri tepat di depan mereka.

Sekali waktu ia melirik jam tangan, kali lain ia akan memeriksa telepon genggam. Sebentar ia melongok kesana kemari untuk kemudian mendengus jengkel.

Gara-gara Shinta yang berinisiatif tinggi, Dita –nama wanita tersebut— mendapat tanggung jawab untuk berangkat bersama dengan Zac, seorang karyawan baru.

Kata Shinta, itu adalah hukuman karena Dita cuti di masa sibuk. Lagipula, sebenarnya bukan hukuman yang berat karena Zac itu luar biasa ganteng —masih kata Shinta.

Tentu saja Dita tidak percaya. Pelayan McD saja tidak jarang kecipratan lirikan genit dari Shinta. Bagaimana Dita bisa percaya dengan kemampuan menilai Shinta?

Lagipula Dita tidak mengerti, kenapa dia harus menjemput lelaki ini, sih?

“Maaf, Dita, ya?”

Dita sudah siap mengomel untuk lima menit yang terbuang percuma saat untuk pertama kali —atau mungkin sekali-kalinya— Dita harus mengaku bahwa Shinta benar.

“Kamu terlambat,” ucap Dita yang dengan cepat sudah berhasil menguasai dirinya kembali.

“Maaf…”

“Lain kali datang lebih awal.”

“Iya, saya…”

“Ayo.”

Dita mengangkat tangan dengan yakin saat melihat sebuah taksi dengan lampu menyala sedang mendekat. Kalau ia bergegas, maka mereka masih bisa sampai di kantor tepat waktu.

Tanpa diduga, Zac sudah lebih dulu membukakan pintu taksi. “Thanks,” gumam Dita seraya cepat-cepat masuk.

Dita tidak melihat bagaimana mata Zac bersinar dengan cerah saat memandangnya, bahkan saat masih dari kejauhan.

Namun Zac pun tidak menyadari bahwa rona merah di pipi Dita bukanlah karena pulasan make-up. Harusnya dia tahu, karena rona itu semakin menyala saat dia duduk di samping Dita.

Taksi segera meninggalkan halte begitu pintunya tertutup.

Kedua remaja yang tadi sibuk bercengkrama pun sudah berdiri, menunggu bus mereka yang sebentar lagi akan tiba.

“Seru kali, ya. Kalau kita bisa ngeliat orang saling jatuh cinta di halte ini.”

“Ah, tidak berebut saat naik bus saja sudah merupakan prestasi. Bagaimana mungkin kita bisa melihat orang jatuh cinta saat bertemu di halte?”

“Iya, sih! Berarti halte ini harus ganti nama, nih! Gak cocok sama kenyataan.”

Baru saja Alya —nama salah satu dari dua remaja itu— selesai mengucap, seorang remaja lelaki muncul dan bertanya apakah mereka sedang menunggu bus yang sama.

“Kalau ya, mungkin kita bisa pergi bersama.”

Remaja lelaki tersebut mengenakan seragam yang sangat dikenal oleh Alya. Seragam dari sebuah sekolah khusus lelaki yang tidak jauh dari sekolah Alya.

Dalam satu kesempatan, Alya pernah berucap bahwa suatu saat ia akan menjadikan murid sekolah tersebut sebagai pacarnya. Tidak ada alasan khusus, hanya saja dia rasa akan sangat menyenangkan jika bisa berpacaran dengan siswa di sekolah laki-laki.

Alya melirik Sarah, temannya, yang sudah tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengangguk ke arah lelaki tersebut. “Tentu saja bisa.”

IMG_3613-0

—ditulis untuk #TantanganMenulis | Tema : Koi no Yokan

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s