#TantanganMenulis — Pochemuchka

enhanced-buzz-7393-1377801447-1

Terkadang, saya bingung kenapa saya sangat ingin menjadi seorang guru. Saya sudah pernah menjelaskannya di tiga bagian ‘Kenapa harus jadi guru’ (part one, part two, part three). Hanya saja, saya tetap sering bertanya, “Kenapa?”

Pertanyaan itu muncul karena terus terang saja, saya tidak tahan dengan orang yang terlalu banyak bertanya.

Malahan, saya bukan orang yang gampang menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran saya kepada orang lain. Terutama tentang step-by-step.

Saya sangat sering menghindar dari bertanya.

Satu, saya tak suka apabila diberi penjelasan dengan cara yang gak ngenakin. Contohnya, kalau dijawab dengan nada ‘masa-gitu-aja-gak-tau’ atau ‘ya-ampun-kan-udah-dibilang-tadi’.

Dua, ya seperti yang sudah dibilang, saya gak suka dengan orang yang terlalu banyak bertanya.

Kalau istilah sekarang sih, orang yang kebanyakan nanya bisa disebut ‘kepo’. Gak ngerti kenapa disebut gitu dan sedang tidak berniat mencari tahu lebih lanjut 😛

Tapi sepertinya kepo beda dengan pochemuchka, ya. Dalam artian, tidak semua pochemuchka berarti kepo. Kadang, orang kepo ya karena emang seneng aja ngurusin hidup orang lain. Tentu, itu berlaku untuk yang kepo akut.

Anyway, meski saya jengkel dengan orang yang memiliki terlalu banyak pertanyaan, saya sadar bahwa itu tidaklah sepenuhnya salah.

Terkadang, kita memang perlu mempertanyakan sesuatu hal. Semakin banyak yang kita tahu, semakin baik kita dalam menilai suatu hal dan semakin luas juga pengetahuan kita.

Walau, ada saatnya juga kita tidak bisa juga memaksakan diri untuk mendapat jawaban. Setidaknya, kita harus sadar bahwa ada hal yang tidak memerlukan jawaban. Terkadang juga, kita harus menerima bahwa jawaban yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Hal-hal seperti itulah, yang membuat saya tak suka bertanya dan  ditanya.

Saya takut mendapat jawaban tak sesuai harapan. Saya juga tak ingin memberi jawaban yang mengecewakan orang lain.

Lalu, saya pun seolah tersadarkan. Sebenarnya, saya pun orang yang memiliki banyak pertanyaan.

Saya bertanya-tanya, apa saya cukup baik untuk orang yang saya sayang?

Saya bertanya-tanya, apa mimpi saya akan menjadi kenyataan?

Saya bertanya-tanya, apa bisa saya menjadi lebih baik lagi dari sekarang?

Saya bertanya-tanya, bagaimana kalau semua yang saya percaya selama ini adalah salah?

Saya bertanya-tanya, apa saya akan menemukan jawaban untuk semua pertanyaan saya?

Terkadang, hal atau orang yang sangat mengganggumu adalah sesuatu yang sangat dekat dengan dirimu.

Sekarang, saya mengerti kenapa saya tetap ingin menjadi guru TK.

Sama seperti bocah-bocah itu, saya pun banyak bertanya. Tentu saja itu adalah hal yang baik.

Kita semua sedang dalam proses untuk menjadi lebih baik lagi, berapa pun umur kita.

Tak masalah bila kau memiliki banyak pertanyaan dalam hidupmu. Yang menjadi masalah adalah jika kau merasa tak butuh jawaban.

Tak masalah jika kau punya banyak tanda tanya. Selama kau tak merasa bahwa kau sudah berada di titik akhir.

Saat kau berhenti bertanya, kau akan berhenti mencari. Saat kau berhenti mencari, kau akan berhenti melangkah. Padahal hidup tak pernah berhenti.

Biarkan jiwamu tetap haus mencari jawaban, selama kau selalu tahu ke mana kau harus mendapatkannya.

Love,

Zelie ♥

IMG_3613-0

—  ditulis untuk #TantanganMenulis | Tema: Pochemuchka

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s