Hitunglah Berkatmu

Saya sudah bercerita kemarin tentang bagaimana saya sering menyalahkan diri sendiri apabila tak bisa mengubah keadaan (Read here). Hal ini membawa saya ke dalam perenungan yang lebih jauh, menyadarkan saya kalau terkadang saya terlalu mengasihani diri sendiri.

Seringkali saat hal yang kurang menyenangkan terjadi, saya malah terus tenggelam dalam pemikiran saya akan hal buruk yang mungkin akan terjadi atau pernah terjadi.

Contoh sederhananya: saat sedang naik bus dan berdesak-desakan, saya terkadang merasa sebal. Manusiawi, kan?

Tapi perasaan sebal yang harusnya ‘cuma sesaat’ itu akan membawa saya ke dalam pemikiran negatif berikutnya.

“Duh, udah gak nyaman di bus, macet pula. Lama deh nyampe rumahnya, padahal udah ngantuk.”

“Ah elah, udah musti desek-desekan, ada yang malah asyik chatting, ada yang gak tau diri nempatin badan, ada yang gak bisa kontrol bau badan. Ampun deh…”

Belum lagi kalau misalnya ternyata kondisi jalan, atau kondisi rumah tidak sesuai dengan harapan.

Makin jadi deh kekesalan karena saya membiarkan hal yang gak sesuai harapan mempengaruhi keceriaan.

Kenapa? Karena sibuk mengasihani diri sendiri dan melupakan berkat yang sudah diterima

Saya sibuk menggerutu karena perjalanan tersendat tapi lupa bahwa saya masih nyaman dan aman di dalam kendaraan. Sementara ada yang harus berjalan kaki untuk pulang, atau ada yang dicopet saat perjalanan pulang.

Saya merasa saya malang karena tinggal di kota yang menyajikan kemacetan berkala, sementara banyak yang tinggal di desa dan ingin melihat seperti apa Jakarta itu.

Karena saya sibuk pada kesedihan saya sendiri, saya lupa bahwa saya diberkati.

Lebih lanjut lagi, saya menuntut banyak dari orang lain karena saya merasa saya adalah ‘korban’.

Seperti contoh di atas, dalam kondisi berdesakan dan nyaris gak bisa bergerak, saya akan sebal kalau Mama menelpon karena saya tahu saya harus memberinya kabar padahal kondisinya menurut saya tidak memungkinkan saya menerima telpon.

Padahal tentu saja bisa, tapi saya harus ‘berusaha lebih’ dan karena sebelumnya saya sedang sibuk mengasihani diri sendiri maka saya merasa Mama yang harusnya mengerti kondisi saya.

Nyatanya, apakah Mama salah karena ingin tahu kondisi anaknya?

Masih lebih banyak anak yang ingin dihubungi oleh orangtuanya sebagai wujud kepedulian. Sementara saya, mengapa saya malah bersungut-sungut?

Yang hendak saya sampaikan di sini adalah selain untuk mengingatkan diri sendiri, saya juga ingin mengajak kita semua untuk (lagi dan lagi) belajar bersyukur dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita.

Mengasihani diri kita sendiri hanya membuat kita larut dalam perasaan tak berdaya dan malah memperburuk keadaan kita.

Berbahagialah meski saat itu kau tak menemukan alasan untuk berbahagia.

Selalu hitung berkat yang kau punya dan saat kau melihat hasilnya, kau akan tahu betapa terberkatinya dirimu.

Much love,

Zelie

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s