Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

Sebagai seorang introvert, berurusan dengan orang lain adalah hal yang melelahkan buat saya. Bukannya saya tidak suka berkomunikasi dengan orang lain. Hanya saja, percaya atau tidak, saya selalu merasa lelah setiap kali ‘bersosialisasi’ dengan orang lain.

Saya hanya bisa merasa nyaman dengan orang-orang tertentu, tepatnya keluarga saya. Sedangkan orang lain, bisa dihitung dengan jari yang tidak membuat saya ‘lelah’ saat berkomunikasi.

Tidak semua orang mengerti bahwa saya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi. Banyak yang tak percaya bahwa saya adalah introvert, bahkan bisa dibilang sedikit yang percaya bahwa saya bukan orang yang pintar bicara.

Di dalam pekerjaan, komunitas dan keseharian, saya dituntut untuk menjadi seorang yang sama sekali berbeda. Hal yang saya anggap baik karena saya pun belajar menjadi seorang yang lebih baik.

Sayangnya, kita tentu tidak bisa meminta orang lain mengerti usaha kita.

Orang lain cenderung tidak peduli dengan bagaimana kita berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang dilihat adalah, sejauh apa kau sudah membaik?

Bukan cuma sekali-dua kali saya mempertanyakan kemampuan saya untuk menjadi murid Tuhan yang baik.

Setiap kali saya melakukan kesalahan, sering saya bertanya kepada diri sendiri. “Jika saya begini terus, apa saya layak menjadi murid Tuhan?” Yang akhirnya membawa saya dalam sebuah kemunduran.

Dalam diri saya, tertanam pemikiran bahwa seorang murid Tuhan haruslah sempurna. Integritas, hal yang diajarkan di gereja. Bahwa seorang beriman haruslah tak bercela, tak bercacat. Jika saya tidak mampu menjadi seperti itu, masih layakkah saya disebut sebagai murid Tuhan?

Jika integritas saya teruji dan saya gagal melewatinya, apakah itu berarti saya bukan lagi murid Tuhan?

Saat merasa gagal, saya cenderung menarik diri. Sepertinya lebih mudah kalau saya kembali menjadi diri saya yang lama. Sepertinya lebih baik saya menyerah, karena perubahan terasa mustahil untuk dilakukan.

Dan saat saya sudah benar-benar hampir menyerah, saya mendapatkan sebuah ‘pencerahan’. Lucunya, ini terjadi justru setelah saya membaca forum komunitas atheis.

Sebelum saya lanjutkan, saya rasa saya perlu menjelaskan bahwa saya tidak mencari ‘kebenaran’ di forum tersebut. Saya tidak tergabung di sana dan tidak memiliki minat bergabung, baik sebagai anggota ‘beneran’ ataupun ‘gelap’.

Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya adalah bagaimana mereka mempertanyakan kebenaran dari Lot. Bagaimana bisa Lot disebut sebagai orang yang benar padahal ia pernah ‘mengumpankan’ anak gadisnya kepada orang lain?

Saya tidak hendak membahas jawaban secara alkitabiah dari pertanyaan tersebut. Saya hanya akan membahas bagaimana pertanyaan tersebut membawa saya ke sebuah pemikiran.

Melakukan kesalahan tidaklah berarti kau bukan orang yang benar dalam iman. Setiap orang benar yang disebut dalam kitab suci pernah melakukan kesalahan. Sebut saja Daud, yang mengingini istri orang lain. Atau Musa, yang mengabaikan perintah Tuhan dan akhirnya tidak bisa masuk ke tanah perjanjian.

Menjadi orang benar berarti terus belajar dari setiap kesalahan yang kita perbuat dan tidak mengulanginya lagi.

 

Tidak ada manusia yang sempurna. Meski demikian, kita tetap bisa (dan perlu!) memiliki iman yang sempurna terhadap Tuhan. Sehingga kita yang bercacat akan menjadi utuh di dalam-Nya.

Bagi saya, kekurangan dan kesalahan kita adalah pengingat bahwa kita memerlukan Tuhan untuk bisa menjadi sempurna.

Pertanyaannya, sejauh mana kita mengijinkan Tuhan memegang kendali dalam hidup kita?

 

With love,

Zelie ❤

 

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s