#30HariMenulisSuratCinta : Maju-Mundur

Sejujurnya saya sedang tak tahu mau menulis apa, sampai akhirnya saya membaca surat yang saya buat hampir tiga tahun yang lalu.

 

Tahun lalu saya sudah pernah menulis semacam surat lanjutan. Kali ini, saya akan membahas beberapa hal yang saya rasa menohok saat membaca surat yang pertama.

Hal yang paling awal saya tulis adalah hal yang paling ngena. Di 2013, saya berharap diri saya di 5 tahun berikutnya sudah menikah, punya anak atau setidaknya sedang menantikan anak.

Tentu saja saya sedang dalam proses mewujudkan harapan tersebut. Saat ini saya sedang menantikan kelahiran anak saya yang pertama.

Selain itu, saya juga sedang menantikan seorang lelaki yang tepat, yang bisa membuat penantian saya cepat berakhir.

Gak mungkin saya bisa punya anak kalau lelaki alias suami saya belum ada kan?

Salah satu becandaan yang saya sering lontarkan buat yang nanya kapan saya nikah, saya selalu bilang kalau saya lagi nunggu jodoh saya sadar. Sadar bahwa sayalah jodoh yang terbaik buat dia. Atau, sebenernya yang belum sadar itu saya, ya?

Hmm!

Meski demikian, yang paling penting adalah selalu sadar bahwa kau butuh Tuhan dalam hidupmu. Itu sudah.

Selanjutnya tentang impian menerbitkan buku.

Saya ingin sekali berkata bahwa saya sudah setengah jalan. Sayangnya, bisa dibilang perjalanan saya masih cukup jauh.

Secara jujur, saya sendiri pernah merasa meragu. Apakah benar menulis adalah impian saya? Jika ya, mengapa saya tidak pernah berhasil mewujudkan impian tersebut?

Sampai dengan saat ini, jawaban yang paling masuk akal yang bisa saya lakukan adalah saya takut.

Saya begitu ingin mewujudkan impian ini sampai akhirnya saya takut saya gagal dan akhirnya takut mencoba. Saya takut ditolak, baik oleh penerbit maupun oleh pembaca. Saya takut saat saya gagal, akhirnya saya tidak mau lagi maju.

Secara tidak sadar, saya berada di zona nyaman. Seneng nulis tapi gak mau serius nulis buku. Mau sampai kapan?

Draft sudah sejibun. Outline sudah macem-macem. Event menulis udah bermacam-macam. Tapi novelnya masih gak ada yang tuntas, hiks!

Belum lama ini saya dikontak oleh seorang yang awalnya nanya tentang gabung BBI, kemudian berlanjut kami bertukar cerita soal penulisan novel. Sampai akhirnya, saya penasaran darimana dia tahu kontak saya. Lebih jauh lagi, kenapa dia merasa ingin mengontak saya?

Ternyata…

Dia salah mengira saya sebagai Mput. *hening sejenak  #sakitnyatuhdisini

Meski demikian, saya tetap berterima kasih pada orang tersebut yang mungkin saja tidak membaca tulisan ini. Saya malah jadi termotivasi supaya bisa berkarya yang baik dan benar dan dikenal benar-benar sebagai Zelie, bukan Putri yang tertukar *heh

Dan untuk Zelie di masa depan yang membaca tulisan ini, tolonglah wujudkan hal tersebut. Setidaknya, tunjukanlah bahwa kau berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkan impian tersebut.

Paling terakhir, untuk Zelie di masa depan, jangan biarkan seorang pun mencuri kebahagiaanmu.

Manusia akan mengecewakanmu, begitu juga kau bisa mengecewakan orang lain karena ‘kemanusiaanmu’.

Ingatlah bahwa bukan tugasmu untuk membahagiakan orang lain. Biarlah mereka mencari Tuhan sebagai sumber kebahagiaan, begitu juga denganmu.

Setialah pada Tuhan yang tak pernah meninggalkanmu.

Semoga kau selalu mengingat itu 🙂

 

With love,

Zelie ❤

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s