Hari Tanpamu

Minggu lalu, saya sedang pergi bersama Papi ke Bandara Soekarno-Hatta. Seharusnya kami keluar di Dadap tapi karena macet luar biasa, akhirnya kami jalan terus. Tujuannya keluar di Cengkareng, tentu saja. Hanya saja, karena kecerebohan saya, kami akhirnya malah keluar di Slipi.

Tepat saat saya melihat pintu utama RS Dharmais, sayup terdengar lagu Angel – Sarah McLachlan.

Refleks saya berkata, “Tahun ini Emak dua tahun ya, Pi?”

“Tiga, dong.” Papi menjawab dengan tenang.

“Ah iya, ya.”

Lalu kami sama-sama diam.

Lagu tersebut, entah kenapa, terdengar juga oleh saya saat sedang mengiring jenazah Emak ke pemakaman. Tapi Papi tidak ada di mobil yang sama dengan saya dan kakak sekeluarga. Papi, sebagai anak tertua dan adiknya yang anak kedua, ikut di mobil jenazah.

Meski demikian, saya rasa kami masih memikirkan hal yang sama setiap kali melewati jalanan tersebut.

Mengutip kata kakak saya, “Harusnya Emak di mobil yang sama dengan kita.”

Lengkapnya, seharusnya dia masih ada.


Katanya, kita tak akan pernah siap kehilangan orang yang dekat dengan kita.

Tak peduli adanya tanda yang kuat atau bahkan fakta yang nyata dan teruji.

Mungkin —hanya mungkin— hanya berbeda di cara menyikapinya. Sementara sakitnya tetap saja sama, tidak ada beda.

Saya pernah menuliskan tentang kerinduan saya terhadap Emak (read: Dear My Lovely Emak). Percayalah, tulisan itu belum cukup menggambarkan bagaimana sedihnya saya saat itu, atau sekarang.

Ada yang bilang kalau waktu akan menyembuhkan luka. Meski begitu, kebanyakan luka meninggalkan bekas. Ada yang semakin samar, ada yang malah semakin nyata.

Bagi saya, waktu memang menyembuhkan luka walau meninggalkan bekas.

Daripada saya terus berpikir mengapa Emak tidak lagi ada, saya memilih untuk bersyukur bahwa dia pernah ada.


Tiap orang punya usaha yang berbeda untuk menyembuhkan luka di hati. Kalau saya, tentu saja lewat tulisan.

Oleh karena itu, saya pun mulai menyusun ‘Hari Tanpamu’. Saya ingin mencurahkan emosi, sehingga terasa lega. Itu tujuan awalnya.

Sayang, proses penulisannya tak berjalan lancar. Saya pikir, saya yang tak berani menghadapi rasa sakit.

Sampai akhirnya, seorang teman mengingatkan saya bahwa saya tak perlu berusaha agar tulisan saya dibaca oleh orang lain. Menulislah dari hati, karena itu akan jauh lebih bermakna.

Dari situ saya seolah tersadar bahwa saat saya menulis ‘Hari Tanpamu’, saya terlalu memikirkan penilaian orang lain. Padahal, ini adalah proyek pribadi saya. Untuk apa memedulikan orang lain?

Saya terjebak dalam usaha memberi inspirasi bagaimana cara menghadapi kehilangan. Saya lupa tujuan awal saya adalah mengingatkan diri sendiri.

Akhirnya, sekali lagi, saya membongkar kerangka cerita.

Jadi, untuk kalian yang sudah pernah membaca cerita ‘Hari Tanpamu’, mohon jangan kaget karena perubahan cerita yang cukup ekstrim.

Saya tak bisa berjanji bahwa cerita yang baru akan lebih menarik.

Yang bisa saya janjikan adalah terus menulis. Ya, tentu saja janji itu adalah untuk diri saya sendiri.

Untuk yang akan membacanya, saya hanya bisa menjanjikan hati yang tulus dalam menulis dan menyayangi kalian, terutama yang rajin menunggu tulisan saya *lalu dikeplak

 

With love,

Zelie ❤

 

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s