Target: Impian atau Tujuan?

Saya sangat sadar bahwa saya adalah seorang yang labil dan tak terarah. Cocok dengan salah satu cuplikan lagu lawas, “aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulanggg~”

Tapi sudah ya, di cuplikan itu saja cocoknya, selebihnya gak cocok.

Sekitar pertengahan tahun, saya berkenalan dengan metode bullet journal yang menarik. Saya mulai mencoba menerapkannya karena ingin meningkatkan kreativitas saya dalam corat-coret, gambar, dan juga tulisan.

Nyatanya, jurnal saya berantakan minta ampun, meski saya sudah berusaha sebaik mungkin buat mengikuti tata cara yang benar.

Saya sudah menyerah untuk membuatnya cantik dan instagrammable. Saya fokus untuk membuat jurnal tepat guna dan bermanfaat buat saya. Toh orang lain gak wajib dan gak harus tahu kan kegiatan dan juga rencana-rencana yang saya tulis di jurnal.

Salah satu poin yang penting di dalam bullet journal adalah membuat target. Setidaknya itu yang saya pelajari dan anggap baik untuk diikuti. Apalagi ya itu,saya kan sering tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Saya mulai membuat target. Tujuannya tentu saja untuk lebih mudah mengatur waktu dan melihat waktu yang saya punya untuk kegiatan lain.

Belum lama ini saya melakukan review singkat untuk target-target mingguan saya. Ternyata lebih banyak target saya yang tak tercapai. Gak terlalu mengejutkan sebenarnya *heh

Adik saya memberi komentar, “Itu mah impian jadinya.”

Dan yah, saya harus mengakui bahwa itu ada benarnya.

Target kalau terus-menerus tak tercapai tentu saja jadinya cuma impian, khayalan, dan juga sekadar cita-cita. Jadi, apakah kita tak perlu punya target?

Hmm..pertanyaan yang menarik. Dan sangat menggoda untuk dijawab dengan “Benar sekali, jalani saja hidupmu apa adanya.”

Sayangnya, itu gak akan membuat kita lebih baik.

Ada masanya kita memang harus membiarkan sesuatu yang tidak bisa kita ubah seperti apa adanya. Tapi itu hanya berlaku jika perubahan itu tidak bergantung pada diri kita sendiri.

Contoh, saya gak bisa mengubah kenyataan bahwa Kia bukanlah juara pertama AFI. Direlakan saja.

Lain halnya dengan hal membuat target. Kalau target tidak tercapai, tentu saja saya harus ikhlas karena saya gak bisa memutar kembali waktu.

Tapi itu tidak berarti bahwa saya harus membuat target. Saya yang harus berubah. Saya harus mencapai target tersebut, sesulit apapun. Lagipula, target itu kan saya sendiri yang buat.


goals

 

Meski demikian, tentu saja ada pelajaran penting yang saya ambil dari kegagalan mencapai target.

Yang pertama adalah mengenal diri sendiri lebih jauh.

Saya jadi belajar untuk mengamati gaya kerja dan gaya hidup diri sendiri. Ternyata butuh waktu sekian jam untuk saya menulis sekian ratus kata. Kebanyakan konsumsi micin bikin saya tambah mager. Kebanyakan makan bikin saya gendut *yaiyalah

Kedua, saya belajar membuat target yang realistis.

Saya dulu selalu menyebut diri “super woman and will always be” sebelum akhirnya menyesal. Toh ternyata saya masih sering merasa saya diri super woman. Yak, saya memang selabil itu.

Saya memasang target yang saya pikir mudah saja dilakukan, ternyata sulit! Lalu stress sendiri karena gak mencapai target. Berusaha menyemangati diri sendiri, pasang target tinggi lagi, dan… ketebaklah akhirnya gimana.

Berhubung saya sudah belajar mengenal diri sendiri, saya pun belajar membuat target yang pas. Masuk akal dan manusiawi.

Yang ketiga, belajar konsisten dan disiplin.

Dulu saya menulis “professional procrastinator” dalam bio Twitter saya.

rachelshock

Kalau saya jadi bos, mana mau mempekerjakan orang yang tulis seperti itu di bio? Untunglah saya cepat tobat dan masih mendapatkan pekerjaan.

Saya harus mengakui bahwa saya memang orang yang tidak pandai mengatur waktu. Mudah terdistraksi banget. Kadang lagi ngerjain A malah dapet ide buat B sehingga akhirnya malah A tidak dikerjakan.

Dengan menyusun target, saya belajar untuk fokus pada tugas. Supaya terus diingatkan bahwa banyak hal yang harus saya lakukan. Supaya gak sibuk ngurus ternak atau jualan tahu *ehem


Pada akhirnya, saya beranggapan bahwa membuat target itu suatu hal yang baik. Kita hanya perlu memastikan target itu tercapai, supaya bukan cuma sekadar impian.

“Dare to live the life you have dreamed for yourself. Go forward and make your dreams come true.”
― Ralph Waldo Emerson

Ya, impian pun bukanlah suatu hal yang buruk. Meski demikian, ia akan menjadi jauh lebih bermakna apabila terwujud lewat usaha kita.

Kalau kamu, gimana? Apa saja targetmu yang sudah tercapai? Atau, rasanya susah sekali memenuhi target? Cerita di kolom komentar, ya!

 

Salam sayang,

Zelie

 

Advertisements

Share your thoughts with me :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s