Target: Impian atau Tujuan?

Saya sangat sadar bahwa saya adalah seorang yang labil dan tak terarah. Cocok dengan salah satu cuplikan lagu lawas, “aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulanggg~”

Tapi sudah ya, di cuplikan itu saja cocoknya, selebihnya gak cocok.

Sekitar pertengahan tahun, saya berkenalan dengan metode bullet journal yang menarik. Saya mulai mencoba menerapkannya karena ingin meningkatkan kreativitas saya dalam corat-coret, gambar, dan juga tulisan.

Nyatanya, jurnal saya berantakan minta ampun, meski saya sudah berusaha sebaik mungkin buat mengikuti tata cara yang benar.

Saya sudah menyerah untuk membuatnya cantik dan instagrammable. Saya fokus untuk membuat jurnal tepat guna dan bermanfaat buat saya. Toh orang lain gak wajib dan gak harus tahu kan kegiatan dan juga rencana-rencana yang saya tulis di jurnal.

Continue reading

Siapa yang Harus Kita Dengar?

Di era informasi yang cepat ini, tingkat toleransi antar manusia dituntut untuk meningkat tajam. Isu rasial, keagamaan, dan juga kemanusiaan, begitu cepat menjadi perbincangan hangat dan memicu perdebatan yang sengit.

Tentu saja hal tersebut tergolong wajar karena sebenarnya isu-isu di atas adalah isu sensitif, karena berhubungan juga dengan prinsip hidup seseorang.

Ada yang tidak masalah saat rasnya disinggung, malah ikut tertawa dengan guyonan yang dilontarkan. Ada yang sangat peka terhadap apa yang dikatakan orang lain tentang keyakinannya sehingga menjadi reaktif. Ada juga yang mati-matian berjuang untuk HAM sehingga akhirnya mengabaikan aspek-aspek lain yang akan terkena dampaknya.

Lalu, bagaimana hal tersebut mempengaruhi kehidupan kita?

Continue reading

Tentang Bersyukur

Bersyukur adalah satu hal yang mudah diucapkan sebagai nasihat, motivasi, atau doa. Sayangnya, bersyukur juga satu hal yang sulit dilakukan secara nyata.

Saya percaya bahwa bahagia adalah pilihan dan bahwa bahagia adalah suatu bentuk ucapan syukur.

Meski begitu, sama seperti kebanyakan orang lain, saya pun sering bertanya, kapan harus bersyukur?

Continue reading

Movie Talk: Suicide Squad

suicidesquad

Saya sudah membahas pengalaman pre-premiere alias pre-screening alias nonton duluan daripada kebanyakan orang (read: Nonton Premiere Suicide Squad). Sekarang bahas soal nontonnya, ya.

Sebelum film dimulai, seperti biasa ada trailer film-film lain. Lalu ada video clip soundtrack Suicide Squad, Heathens – Twentyone Pilot. Serius deh, meski film belum mulai, saya langsung berasa ini lagu cocok banget. Dan maafkan saya yang suka kuper, saya baru denger lagu ini ya di studio kemarin itu.

Buat kamu yang sama aja kupernya, atau penasaran, atau pengin denger lagi, nih saya kasih link buat dengerin lagunya.

Heathens – Youtube

Cuplikan lirik biar dapet feel-nya:

“All my friends are heathens take it slow

Wait for them to ask you who you know

Please don’t make any sudden moves

You don’t know the half of the abuse”

Film dimulai dengan pengenalan para personel Suicide Squad, dilengkapi dengan flashback singkat untuk masing-masing karakter. Jadi sebenarnya Suicide Squad ini dibentuk untuk mencegah the next Superman yang ditakuti gak baik kayak pendahulunya. Pemrakarsanya adalah Amanda Waller, seorang pemimpin agen rahasia.

Meski mendapat tentangan, Amanda percaya banget kalau dia bisa membentuk tim dari para kriminal. Rahasianya? Dia memiliki hati Enchantress dan juga Rick Flag, yang nantinya bakal jadi kapten dari tim khusus ini.

Ternyata eh ternyata, muncul kejadian tidak terduga yang membuat tim khusus ini harus beraksi cepat. Biar seru, ditonton aja filmnya, ya.

Saya sempat intip beberapa review yang sudah muncul, dan kebanyakan memberi komentar negatif. Padahal buat saya, film ini tergolong bagus, kok.

Mungkin karena saya bukanlah fans berat dari komiknya, atau karena ini pengalaman pertama saya nonton film yang berhubungan dengan Batman. Iya, serius. Jangan timpuk saya, ya.

Jadi saya merasa gak ada masalah yang berarti dengan plot, karakter tokoh, dan semacamnya. Meski harus saya akui, saya agak bosen pas nonton bagian-bagian awal. Tadi kan saya bilang ya kalau ada flashback para karakter, itu tuh yang bikin bosen. Rada panjang juga dan karakternya kan banyak. Ada faktor capek dan sakit mata juga sih, karena kami kebagian duduk di bagian kedua dari depan. Jadi matanya musti nyipit gak jelas gitu pas baca introduction text yang cepet.

Karakter yang saya suka di film ini, Deadshot! Selain karena saya secara kebetulan berpose ala Deadshot di foto, saya suka banget sama kemampuan dia. Gak pernah meleset lho tembakan dia.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Amanda Waller meminta Deadshot membuktikan kemampuan menembaknya. Jadi dia dibawa ke lapangan tembak gitu, ada beberapa sasaran tembak. Di atas meja udah ada sekian banyak senapan.

Asumsi sotoy saya, dia pakai semua senapannya. Yang jelas, dia tembak setiap sasaran tembak di tempat yang sama berkali-kali. Segitu akuratnya. Hm.

Saya juga suka sama Killer Crocs. He’s so cute! 😄

Jadi ada salah satu adegan di mana Harley Quinn bilang kalau mereka itu memang looks ugly from the outside, but beautiful inside. Killer Crocs langsung nyamber, “I’m not ugly.” Terus dijawab, “Of course you’re not.” Ketawa kesenengan deh si Killer Crocs. Hahaha.

Oh iya, awalnya saya kira Harley Quinn itu mantan pacar Joker. Ternyata masih, dong. Masih pacaran mereka. Dan gaya pacarannya tuh emang psycho. Still, cute banget panggilannya, “Puddin~”

Now, let’s rate the movie!

+1 for Deadshot’s and Diablo’s skill, +1 for Killer Crocs’ cuteness, +1 for Rick Flag’s handsome face and his love to me his girlfriend, +1 for Harley Quinn craziness. But, I’m not really impressed with Katana, Slipknot, Boomerang, and Amanda Waller. So, let me reduce the points.

Final rate: 3.5/5

It’s taken me some time, but I finally have them. The worst of the worst.

Fixing a Broken Heart

Ada masa dalam hidupmu saat kau tak tahu harus berbuat apa.

Saat orang yang kau percaya akan menjagamu ternyata membiarkanmu terjatuh, bahkan tega melihatmu terluka.

Saat orang yang kau harap dapat menjadi penghiburan buatmu ternyata adalah alasan dari hal buruk yang terjadi padamu.

Saat orang yang kau yakini bisa melindungimu di dalam dunia yang tak bersahabat malah berbalik dan membiarkanmu sendiri.

Saat orang yang kau kira kau tahu betul pada akhirnya membuatmu terkejut sehingga merasa tak mampu lagi percaya.

  
Di dunia ini, tidak pernah ada sesuatu yang baru.

Pun hal yang kita alami akan selalu sama.

Pertemuan, kehilangan, pencarian, tersesat, putus asa, bangkit lagi.

Setiap peristiwa dalam kehidupan kita adalah pembelajaran.

Pernah mengalami tidak selalu berarti kita pasti mampu bersikap lebih bijak dalam menghadapinya.

Karena pernah mengalami bukan berarti kita kebal sakit. Pertahanan kita bisa lebih kuat tapi luka itu masih mungkin ada.

Saya pernah berharap agar tak memiliki hati yang peka.

Tapi bukankah itu akan menghilangkan sisi kemanusiaan saya?

Bagaimana saya bisa belajar berempati saat saya tak punya hati yang peka?

Bagaimana saya bisa belajar bersyukur kalau saya tak perlu berusaha memperbaiki hati yang hancur?

Bagaimana saya bisa belajar untuk menjadi kuat dan berani jika saya cenderung lari dari kenyataan?

Saya percaya bahwa saat hatimu remuk, Tuhan sedang menantimu untuk berserah padaNya. (Ps. 51:17, KJV)

Tuhan tak pernah membiarkan kita sendiri, selalu beserta kita (Ul. 31:8)

Sudahkah kita mencari Tuhan? Mengapa kita sering kurang percaya Dia mendengar setiap doa dan keluh kesah kita? (Mat. 7:7-8)

Saya masih terus berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. Saya mungkin jatuh, atau mungkin tersesat dalam perjalanan yang saya tempuh.

Saya tidak khawatir.

Yang saya yakini adalah tidak ada orang yang memiliki hati yang tak bercacat, tak pernah hancur atau terluka.

Jangan pernah membiarkan luka yang kita punya mewakili siapa kita.

Jadilah kuat dan berani. Tidak semua hal dapat kau mengerti dan hadapi seketika.

Tetaplah dalam iman bahwa kau tak pernah sendiri, seburuk apapun hal yang sedang kau hadapi.

Semoga kita tak pernah kehilangan harapan ❤️
Much love,

Zelie